OPTIMALISASI BUDAYA LITERASI DI KALANGAN MAHASISWA: UPAYA MERETAS KOMUNIKASI GLOBAL

Globalisasi telah meretas sekat-sekat geografis negara dan memberikan pengaruh yang signifikan bagi dunia. Trend informasi yang begitu cepat menuntut setiap bangsa untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya. Selain itu, akselerasi diperlukan demi mengejar ketertinggalan, sekaligus menjembati jurang antara negara maju dan negara berkembang.

Dalam menjawab tantangan global, Indonesia membutuhkan tangan dingin para intelektual muda yang kompeten dan mampu bersaing di tingkat dunia. Pasalnya, posisi pemuda begitu strategis mengingat daya nalar dan semangatnya yang tinggi. Salah satu icon intelektual muda yang patut diperhitungkan saat ini adalah mahasiswa. Para mahasiswa memiliki kelihaian dalam berwacana, kemudian wacana itu dibumikan dan dikombinasikan dengan potensi kepemimpinan pada sebuah paket gerakan yang terpadu dan terancang rapi. Gerakan yang terpadu ini selanjutnya menjadi ciri khas para mahasiswa sebagai agen perubah (agent of change). Oleh karena itu, mereka memiliki tugas besar dalam meningkatkan  kompetensi, kontribusi, produktivitas, serta kapasitas intelektualnya (Imam, 2008).

Dalam berbicara mengenai respon intelektual, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan gagasan-gagasannya melalui proses kritik yang sehat. Salah satu ciri seorang intelektual adalah mereka yang mampu membumikan gagasannya dengan pena. Soe Hoek Gie, misalnya, dalam sejarah tercatat sebagai seorang mahasiswa yang kritis berani mengkritik tajam rezim Orde Lama dengan tulisan-tulisannya di media massa. Sederet nama seperti Pramoedya, Hamka, Rendra, Ayip Rosidi, dan Goenawan Mohammad adalah kaum intelektual yang membumikan gagasannya dengan pena. Dengan kata lain, mereka merupakan tokoh intelektual yang menggerakkan massa melalui budaya literasi (bahasa). Para penulis, menurut Régis Debray, seorang sosiolog, adalah kaum intelektual generasi kedua—setelah sebelumnya dikuasai oleh para pengajar (teachers) yang membela Dreyfus—seperti Émile Zola, Émile Durkheim dan Anatole France.

Lebih lanjut lagi, budaya literasi merupakan cermin kemajuan bangsa. Para Antropolog bahasa, seperti Lucian Levy-Bruhl, Claude Levi-Strauss, Walter Ong, dan Jack Goody memandang literasi (bahasa) sebagai titik pangkal pembeda masyarakat primitif dari masyarakat “beradab” (Ma’mur, 4:2010). Dengan demikian, untuk membuat pembaruan dalam negeri, para intelektual muda—yang dalam hal ini adalah mahasiswa—dituntut untuk aktif menjadi opinion leader melalui publikasi tulisan dan kemampuan berbahasa asing. Namun sayangnya, saat ini bangsa Indonesia tertinggal jauh dalam penerbitan buku, publikasi artikel, serta jurnal internasional. Tercatat pada 2003 silam, posisi Indonesia berada pada urutan 134 dunia, dengan indeks 0,88 artikel per 1 juta penduduk (Ma’mur, 32: 2010). Begitupun dengan publikasi jurnal internasional yang tertinggal jauh dari negara tetangga.

Oleh karena itu, melalui karya tulis ini, penulis bermaksud memaparkan bahwa saat ini dan ke depannya perlu dilakukan optimalisasi budaya literasi di kalangan mahasiswa. Sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat maka mahasiswa merupakan icon yang tepat untuk memperbarui citra dan kualitas SDM Indonesia di mata dunia. Dalam karya tulis ini, penulis membatasi lingkup permasalahan pada mahasiswa S1 karena rentang usia yang lebih muda dan aktivitas yang lebih homogen dibandingkan mahasiswa S2 dan S3.

Secara umum, penulis merumuskan beberapa pokok permasalahan, yaitu (1) Apakah peran budaya literasi dalam tingkat global? (2) Bagaimana optimalisasi budaya literasi di kalangan mahasiswa agar mampu menjawab tantangan global?

Adapun tujuan karya tulis ini adalah untuk menjelaskan urgensi budaya baca-tulis serta penguasaan bahasa asing bagi para mahasiswa S1. Selain itu juga penulis akan mengkaji upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan budaya literasi. Pada akhirnya, bertujuan untuk menjelaskan pentingnya antuasiasme mahasiswa terhadap budaya literasi dan kontribusi mereka terhadap masyarakat sekitar.

Urgensi Budaya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Bahasa merupakan cermin identitas sebuah bangsa. Bahasa meretas batas-batas geografis dengan keanekaragaman budayanya. Tanpa bahasa, tak ada wacana yang bisa diangkat, didiskusikan, dan dibumikan secara nyata. Di era globalisasi seperti saat ini, sebuah bangsa dapat menjangkau peradaban dunia melalui gerbang bahasa, yaitu kemampuan membaca dan menulis (budaya literasi).

Menurut Besnier (dikutip dalam Duranti, 2001; Ma’mur, 2010) dalam Key Concepts in Language and Culture sebagai “communication though visually decoded inscriptions, rather than though auditory and gestured channels”, literasi adalah komunikasi melalui inskripsi yang terbaca secara visual, bukan melalui saluran pendengaran dan isyarat. Inskripsi visual di sini termasuk di dalamnya adalah bahasa tulisan yang dimediasi dengan alfabet (aksara).

Salah satu tantangan terbesar dalam pemberdayaan bangsa ini adalah meninggalkan tradisi lisan (orality) untuk memasuki tradisi baca tulis (literacy) (Suroso, 11:2007). Bagaimanapun, era informasi telah menciptakan ruang yang luas terhadap tumbuh kembangnya media tulis. Data dari Association For the Educational Achievement (IAEA), misalnya, mencatat bahwa pada 1992 Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Sementara itu, dari 30 negara, Indonesia masuk pada peringkat dua dari bawah. Perbandingannya dengan saat ini barangkali tidak berbeda jauh jika melihat indikator yang ada.

Selain itu, dalam menjawab tantangan global, transfer IPTEK dapat berhasil jika masyarakat menguasai kemampuan membaca dan menulis. Diperlukan kemampuan yang profesional untuk mengasah daya kritis serta mengadopsi nilai-nilai positif dari bangsa maju. Belajar dari sejarah peradaban besar, menggiatkan budaya literasi dapat mendorong tumbuhnya inovasi baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Socrates, misalnya, para siswa di Yunani (kota lahirnya para filosof), diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Begitu juga di zaman peradaban Islam, budaya literasi semakin berkembang ketika Khalifah al-Ma’mun membangun akademi terbesar di dunia bernama Bayt al-Hikmah, yaitu pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai pusat studi, perpustakaan yang lengkap dengan kegiatan keilmuan lainnya (Zarkasyi, 94:2009). Alhasil, banyak penemuan baru dalam perkembangan sains dan disiplin ilmu lainnya.

Bercermin dari sejarah, dalam konteks perguruan tinggi, budaya literasi merupakan hal yang sangat penting digiatkan. Semakin zaman berkembang, tentu saja tantangan yang ada semakin menuntut mahasiswa untuk bisa menjembatani jurang realitas. Para intelektual muda diharapkan mampu memberikan gagasan yang segar untuk perubahan bangsa. Bagaimanapun, sebagai intelektual muda di perguruan tinggi, mahasiswa mendasari gerakannya dengan karakterisitik keilmuan yang memiliki berbagai sifat, antara lain; Pertama, universalisme (berlaku universal, tidak di satu tempat), menyentuh dasar-dasar hati nurani dan akal sehat; Kedua, uninterestedness (ketanpapamrihan), tidak berdasarkan tendensi politik sesaat, serta memberikan ruang terbuka untuk menguji objektifitas kebenarannya. Oleh karena sifatnya yang masih idealis, respon intelektual yang diciptakannya bersifat wajar dan murni (Berly, 69: 2000)

Lebih jauh, Botomore menjelaskan bahwa intelektual adalah kelompok kecil yang secara langsung memberikan kontribusi kepada pengembangan, transmisi, dan kritik gagasan-gagasan (Azra, 33: 1998). Dengan demikian, tugas seorang mahasiswa sejatinya adalah menyampaikan gagasan kritis tersebut dan menuangkannya menjadi sebuah tulisan. Kemampuan menulis tentu saja harus didukung dengan budaya membaca. Jika budaya literasi dapat digiatkan secara optimal, bukan tidak mungkin para mahasiswa mampu menjadi opinion leader, baik di tingkat lokal, maupun tingkat global.

Budaya Literasi: Kegiatan Ilmiah yang Tereduksi

Tak dapat dimungkiri bahwa ada kaitan antara lembaga pendidikan dan dunia intelektual. Keduanya sangat interaktif (saling mempengaruhi) dan interdependen (saling tergantung dan membutuhkan) (Azra, 1998). Salah satu cara untuk membangun tradisi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi adalah mengoptimalkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Kemajuan sebuah bangsa tercermin dari giat atau tidaknya budaya literasi masyarakatnya.

Lebih jauh, salah satu indikator penilaian kualitas sains dalam suatu negara adalah jumlah artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional. Menurut data Science and Engineering Indicators, jumlah publikasi bangsa Indonesia pada 2003 hanya 178 artikel, tertinggal jauh di bawah negara-negara ASEAN, seperti Malaysia yang mempunyai publikasi 520 artikel, Vietnam 206, Filipina 179, Thailand 1072, dan Singapura 3122. Sementara itu, Korea Selatan memiliki 13.746 publikasi, dan Jepang sejumlah 60.067 artikel. Kalau dihitung jumlah artikel perkapita, posisi Indonesia semakin mengenaskan: berada pada urutan 134 dunia, dengan indeks 0,88 artikel per 1 juta penduduk (Ma’mur, 32: 2010).

               Gambaran serupa juga terjadi pada penerbitan buku. Di wilayah ASEAN, jumlah penerbitan buku di Indonesia tertinggal jauh, yaitu sebanyak 6000 judul buku per tahun, sementara Malaysia sejumlah 10.000 judul buku, dan Singapura 12.000 judul buku. Lebih lanjut lagi, di level Asia Pasifik, Cina dan Jepang menerbitkan masing-masing 60.000 judul buku. Sementara itu, Kompas mencatat bahwa pada 2009, Indonesia baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku per tahun. Jumlah ini sama dengan Malaysia yang berpenduduk sekitar 27 juta jiwa dan jauh di bawah Vietnam yang bisa mencapai 15.000 judul buku per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa.

Dari paparan di atas, jelas bahwa menggiatkan budaya literasi dirasa penting di lingkungan kampus. Mempublikasikan tulisan kepada khalayak tentu saja bukan hanya tugas seorang akademisi, seperti dosen, tetapi juga harus dimulai dari kalangan mahasiswa sehingga kemajuan bangsa dapat mengalami percepatan. Penguasaan menulis juga harus diiringi dengan kegiatan membaca yang kontinu, serta penguasaan bahasa asing yang mumpuni, khususnya Bahasa Inggris.

Sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat maka mahasiswa juga berkewajiban menularkan kesadaran membaca itu kepada masyarakat sekitar. Bagaimanapun, masyarakat Indonesia secara umum belum memiliki kesadaran tinggi dalam membaca. Data BPS (2006) menunjukkan, orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi  sekira 23,5 persen dari total penduduk, sedangkan yang menonton televisi sebanyak 85,9 persen, dan mendengarkan radio 40,3 persen.

Karena globalisasi telah menciptakan ruang aktualisasi yang luas, dunia akan memandang sebuah bangsa dari karya yang dihasilkannya. Robert A.Day mengatakan:

“Scientist are measured primarily not by their dexterity in laboratory manipulations, not by their innate knowledge of their board or narrow scientific subjects, and certainly not by their wit or charm; they are measured, and become known (or remained unknown) by their publications”

Dari paparan di atas, jelas bahwa budaya literasi merupakan kegiatan ilmiah yang perlu dioptimalkan. Namun sayangnya, penulis melihat bahwa semangat membangun budaya literasi belum berjalan secara optimal. Sebaliknya, mahasiswa kini tengah mengalami kecenderungan delitenisme dan bahkan pendangkalan berpikir. Mereka hanya cukup tahu tema umum tanpa mengetahui detail-detail informasi yang masuk. Salah satu indikator yang paling mungkin didiagnosa adalah adanya budaya plagiarisme. Di ITB pada April 2010 silam terjadi kasus memalukan terkait pencopotan gelar ‘Doktor’ seorang alumnus program doktoral STEI angkatan 2003 karena plagiarisme penelitian. Sekalipun telah tertulis sanksi yang tegas, namun copy paste penelitian belum sepenuhnya hilang.

Kemampuan literasi juga berbanding lurus dengan kemampuan daya nalar. Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo, sejarawan UGM menyatakan bahwa kemacetan seminar-seminar intern yang dilakukan oleh mahasiswa pascasarjana bukan karena mahasiswa tidak mempunyai data, namun mereka kesulitan menyampaikan gagasan pemikiran secara logis, analitis, dan kritis. Artinya, kemampuan seseorang dalam berbahasa tulis juga dipengaruhi kemampuan bernalarnya (Suroso, 32:2007).

Selain itu, bentuk pendangkalan berpikir juga terjadi dalam bentuk aksi-aksi mahasiswa yang cenderung anarkis. Aksi tersebut pada akhirnya malah menciptakan stigma buruk di kalangan masyarakat. Alhasil, tujuan yang pada mulanya ingin mengubah kehidupan sekitar agar menjadi lebih baik, justru malah menampilkan citra yang lebih buruk. Dengan kata lain, mahasiswa saat ini membutuhkan inovasi gerakan yang segar, bertanggungjawab, dan memiliki efek yang global, tanpa menghilangkan identitas lokal, serta karakter pergerakan masif yang kritis, dinamis.

Optimalisasi Budaya Literasi: Antara Tantangan dan Tuntutan

Optimalisasi budaya literasi merupakan agenda yang perlu terus diperhatikan. Bagaimanapun juga, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk meretas komunikasi global. Melalui budaya literasi, transfer ilmu pengetahuan dari satu negara ke negara yang lain dapat berjalan secara optimal. Selain itu, tanpa kemampuan membaca dan menulis, sebuah bangsa tidak akan dipandang sebagai bangsa yang bermartabat. Dalam konteks yang lebih sempit, menyemai budaya literasi di perguruan tinggi merupakan langkah yang baik untuk memulai perubahan global. Belajar dari sejarah, universitas merupakan lahan yang subur untuk menciptakan para intelektual organik, yaitu intelektual yang, menurut Gramsci, always on the move, on the make, tidak pernah diam, senantiasa berbuat sesuatu untuk masyarakatnya.

Lebih jauh lagi, ciri paling penting dari kaum intelektual adalah keberaniannya untuk menyampaikan sesuatu yang benar itu benar dan yang salah itu salah (intellectual courage). Di era informasi seperti saat ini, media massa memegang peranan penting dalam segala aspek kehidupan. Media, tanpa disadari,  mengkonstruksi realitas objektif dan menggiring opini publik. Berbagai permasalahan bangsa di dunia bahkan terekam di media dengan beragam kepentingan dan nilai tersendiri. Namun, seorang intelektual yang baik adalah mereka yang selalu menguji kebenaran dengan objektif sehingga tidak mudah terjebak pragmatisme politik. Sikap kritis tersebut diperoleh dengan menggiatkan budaya literasi, mengumpulkan beragam premis yang bisa mengantarkan seorang intelektual pada kesimpulan objektif.

Melihat kenyataan yang ada, saat ini bangsa kita sedang terjebak dalam turbulensi krisis. Akar dari krisis itu juga bertumpu kepada sumber yang melahirkannya. Thomas Kuhn dalam The Structure Scientific Revolution mengatakan bahwa kondisi keilmuan dewasa ini telah masuk di samping krisis sekaligus anomali, yaitu norma dan perangkat ilmu yang lama sudah tak relevan, sedangkan yang baru belum terwujud. Hal ini terutama dialami oleh ilmu-ilmu kemasyarakatan. Ilmu ekonomi, misalnya, belum mampu menjawab problema stagflasi, ilmu hukum cenderung tebang pilih, sementara itu ilmu politik begitu rapuh mendeskripsi tumbuhnya kekuatan kapitalisme internasional yang menjadi supra sistem dari sistem nasional (Didin S, 89:1985).

Untuk menjawab anomali tersebut, dibutuhkan peran mahasiswa dalam menelurkan gagasan-gagasannya, tanpa menghilangkan karakter gerakan berbasis massa. Optimalisasi budaya literasi adalah variasi gerakan yang sepatutnya lebih digiatkan karena zaman telah berkembang sedemikian cepat. Mahasiswa adalah opinion leader dalam membangun wacana kepada masyarakat luas.

Berdasarkan kondisi di atas, ada beberapa cara yang sebetulnya bisa dilakukan dalam mengoptimalkan budaya literasi:

a. Optimalisasi Fungsi Perpustakaan

Perpustakaan merupakan pusat studi membaca dan keberaksaraan (litteracy). Ibarat sebuah jantung, perpustakaan sekolah merupakan sarana yang dapat memompakan pemenuhan rasa ingin tahu para mahasiswa. Aktivitas yang sejatinya perlu dikelola secara optimal dalam perpustakaan, yaitu:

1.      Optimalisasi Sarana dan Prasarana

Agar mahasiswa tidak hanya membaca textbook untuk kepentingan kuliah, maka dibutuhkan sistem yang mampu mendorong mereka untuk rajin membaca. Optimalisasi perpustakaan kampus merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Pihak kampus perlu memperhatikan lebih jauh bagaimana membuat perpustakaan fakultas dan pusat menjadi lebih nyaman. Dari sekian banyak universitas, barangkali hanya universitas ternama yang memiliki sarana dan prasarana yang mendukung. Sebaliknya, universitas lainnya masih membutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antara elemen pemerintah dan pihak kampus dalam mengembangkan perpustakaan menjadi lebih baik, misalnya, menyediakan dana lebih untuk penambahan buku, pengadaan komputer, hot-spot, serta aktivitas keilmuan.

2.      Dukungan dosen

Salah satu output dari membaca adalah menulis dan meneliti. Dibutuhkan peran dosen dalam mendorong mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Dengan tugas-tugas konstruktif yang bersifat analitis, maka mahasiswa akan sering mendatangi perpustakaan dan terdorong untuk membaca, menulis, dan meneliti.

3.      Pengadaan Lomba

Selain itu, perpustakaan juga bisa menyelenggarakan lomba karya tulis untuk mahasiswa di tingkat universitas, serta menggiatkan aktivitas keilmuan dengan konsep yang menarik. Kerjasama antara mahasiswa dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk menggiatkan aktivitas keilmuan juga dirasa efektif dalam meningkatkan nuansa keilmuan di universitas.

b. Optimalisasi Kelompok Studi (KS)

Adalah hal yang wajib bagi setiap perguruan tinggi untuk memiliki komunitas atau kelompok studi yang khusus bergerak dalam bidang keilmuan dan riset. Kelompok studi ini hendaknya dibangun berdasarkan core competence masing-masing fakultas. Namun, akan lebih baik jika semua KSF (Kelompok Studi Fakultas) memiliki KS pusat yang merangkul semua disiplin ilmu.  Ini merupakan langkah yang baik untuk menuansakan budaya literasi di kalangan mahasiswa.

UGM misalnya, memiliki Kelompok Studi bernama Gama Cendekia (GC) yang saat ini memiliki lebih dari 500 anggota. Begitu juga dengan IPB yang memiliki Forum for Scientific Studies (Forses). Kedua universitas itu seringkali menjuarai PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), suatu ajang keilmuan bergengsi di tingkat nasional. Aktivitas ini tentu saja didukung penuh oleh rektorat. IPB misalnya, bahkan memasukkan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) PIMNAS sebagai mata kuliah wajib. Bagi mahasiswa yang menjuarai PKM di tingkat nasional, karya mereka senilai dengan kewajiban membuat skripsi.

Kelompok Studi Fakultas universitas lainnya, dapat belajar dari KS UGM dan IPB dalam menciptakan nuansa keilmuan pada mahasiswa. Bagaimanapun, dukungan rektorat dibutuhkan untuk merealisasikan hal tersebut. UKM semisal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga dapat menggulirkan program kerja sperti lomba karya tulis atau jurnal ilmiah di tingkat universitas untuk memacu semangat para mahasiswa. Dimulai dari mahasiswa, maka penulisan jurnal ilmiah dapat lebih digiatkan sehingga ada regenerasi dan kaderisasi yang efektif. Kurikulum Wajib Bahasa Inggris

Saat ini batas-batas geografis semakin tidak terlihat. Penguasaan bahasa Inggris adalah hal yang wajib dimiliki oleh para mahasiswa. Dengan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, para mahasiswa diharapkan mampu meretas komunikasi global. Bagaimanapun, kedudukan bahasa Inggris semakin penting dalam berbagai bidang. David Cystal (1993, 2001, 2007) mengatakan:

“The need for a global language is particularly appreciated by the international academic and business communities, and it is here that the adoption of a single lingua franca is most in evidence, both in lecture-rooms and board-rooms, as well as in thousands individual contacts being made daily all over the globe”

Bahasa Inggris merupakan jembatan literasi global. Tanpa penguasaan bahasa Inggris, bangsa Indonesia akan tertinggal jauh. Universitas, sebagai tempat tumbuhnya para intelektual muda, perlu menyadari hal ini secara serius. Penulis mengapresiasi beberapa universitas yang sudah menerapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat kelulusan. Misalnya, pada 1996, Rektor Universitas Lampung (Unila) mengharuskan mahasiswanya mencapai nilai TOEFL minimal 450 untuk bisa diwisuda. Kebijakan serupa juga diberlakukan oleh Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Drs.Haris Mudjiman PhD, yang mewajibkan semua mahasiswa UNS mengikuti kuliah ekstra bahasa Inggris (Suroso, 45:2007). Saat ini, kurikulum bahasa Inggris memang sudah menjadi mata kuliah wajib di universitas. Namun,  alangkah lebih baik jika mata kuliah bahasa Inggris diberlakukan secara berjenjang dan kontinu di tiap semester, sehingga universitas dapat mencetak lulusan yang bisa menjadi opinion leader di tataran global.

Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi pihak universitas, terutama skill dan jumlah tenaga pengajar yang mendukung. Selain itu, pendapat pro-kontra terhadap hegemoni bahasa Inggris yang diasumsikan dapat menggerus bahasa nasional juga menjadi PR tersendiri. Namun, terlepas dari itu, hemat penulis, jika bahasa Inggris digunakan secara proporsinal, seperti menyimak, membaca, menulis, berbicara, dan menerjemahkan maka para peserta didik dapat mewacanakan pendapat mereka di tingkat global. Lebih jauh, jika para intelektual muda dapat menguasai bahasa Inggris dengan baik, maka akan terbangun interhuman communication yang baik, kepekaan terhadap budaya bangsa lain, serta terbangunnya budaya literasi yang baik.

Advertisements

About komunitasilmiah

the best
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s