Ukm Berbasis Social Entrepreneurship Melalui Pengelolaan Sampah Berbahan Dasar Spanduk Dan Baliho Menjadi Produk Bernilai Jual

Spanduk, poster, dan baliho boleh saja tidak terpakai lagi. Tapi, dengan sedikit sentuhan seni dan kreativitas, bahan-bahan bekas ini bisa menjadi produk mahal. Selain mengirit dana untuk modal bahan baku, bekas alat promosi tersebut juga bisa mengurangi sampah.

Semangat daur ulang telah menghadirkan produk-produk dari barang bekas. Dari isu lingkungan itu, pada 2006 lalu, muncul tren barang-barang yang terbuat dari bahan bekas spanduk, poster, dan baliho.

Salah satu pemain di bisnis ini adalah, Plastic Works yang memproduksi pelbagai tas dan produk lainnya. Mereka membuat tote bag, tas laptop, koper mini, sandal, dompet, gorden kamar mandi, map folder, dan agenda. “Awalnya, tren ini hanya berkembang di kalangan aktivis lingkungan hidup dan perusahaan untuk langkah Corporate Social Responsibility (CSR) mereka,” kata Aswin Aditya, pemilik Plastic Works.

Saat ini, menurut Aswin, orang-orang yang tak menganut paham hijau pun turut bangga menenteng produk-produk ramah lingkungan buatan Plastic Works. “Segmen pasarnya menengah ke atas, termasuk orang-orang yang has nothing to do dengan isu lingkungan,” ungkapnya.

Wajar saja, karena memang barang produksi Palstic Works berkualitas ekspor. “Sekitar 70% produksi untuk tujuan ekspor ke pelbagai negara, seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Australia, Singapura, dan Jerman,” tutur dia.

Aswin menuturkan, perusahaannya pernah mendapat permintaan dari Singapura sebanyak 2.700 pieces, Eropa 3.000 pieces, dan Amerika Serikat 1.500 pieces. “Permintaan kebanyakan dari green organization seperti A Lot To Say asal Inggris,” kata Aswin.

Jika sudah mendarat di negeri seberang, harganya pun melambung. “Tas laptop yang biasa saya jual di lokal Rp 350.000, kalau sudah sampai di luar negeri harganya menjadi € 46 (sekitar Rp 550.000),” ujar Aswin.

Banjir permintaan dari luar negeri itu tak lepas dari peran media. Aswin mengatakan, Stasiun Televisi CNN pernah meliput produknya pada tahun 2009 lalu.

Meski banyak pesanan dari negeri orang, Aswin bilang, ia tetap perlu mengidentifikasi selera pasar lokal. Pembeli di Indonesia biasanya memilih tas satu warna. “Sementara, konsumen Eropa dan Amerika Serikat lebih suka tas yang warna-warni dan eye catching,” imbuhnya.

Soal bahan baku, Aswin tak kesulitan mendapatkan, bahkan dengan harga yang relatif murah. Ia bekerjasama dengan pemulung. Melalui cara ini, Aswin berupaya mensejahterakan pemulung dengan membeli di atas harga standar. “Saya beli Rp 2.000 per kilogram,” katanya.

Selama ini, Aswin bisa merangkai spanduk bekas ukuran 40 m x 2 m menjadi satu tas laptop. Banner ukuran 40 m x 3 m menghasilkan empat tote bag.

Awin memiliki sembilan karyawan untuk mengolah bahan menjadi tas. Proses pembuatannya: Pertama, bahan yang sudah dicuci bersih direndam disinfektan selama setengah sampai dua jam agar steril; baru kemudian dijemur di bawah sinar matahari.

Kedua, bahan dipotong sesuai pola tertentu supaya bisa terbentuk model yang diinginkan. “Bagian ini yang tersulit karena membutuhkan kreativitas membentuk pola tertentu,” ungkapnya.

Ketiga, pola itu dijahit membentuk panel. Keempat, panel disatukan untuk proses penjahitan akhir dengan aksesori lainnya.

Harga aksesori pelengkap bervariasi. Misalnya, tali harganya Rp 9.000 per gulung. Satu gulung tali panjangnya 18 meter untuk membuat tiga hingga empat tas. Harga lining yang dipakai untuk bahan pelapis bagian dalam tas Rp 9.000 sampai Rp 35.000 per meter.

Aswin membanderol produknya mulai Rp 25.000 sampai Rp 350.000, tergantung tingkat ketelitian dan kreativitas. Harga jual memang berkali-kali lipat dari modal. “Di situlah letak penghargaan terhadap kreativitas,” ujarnya.

Selain perorangan, Aswin juga membidik pembeli perusahaan. “Biasanya perusahaan memesan khusus dengan spanduk atau poster bekas berlogo perusahaan mereka,” kata dia.

“Bagi pembeli yang memesan dalam jumlah banyak seperti kemarin ada mahasiswa TI UI yang meminta untuk dibuatkan tas, tong sampah, dan lain-lain dari spanduk acara mereka, saya memasang harga Rp 30.000-Rp 100.000 per pieces.” Tak heran, dalam sebulan, ia rutin meraup omzet Rp 20 juta-Rp 60 juta dari penjualan 500 sampai 1.000 produk.

Untuk pemasaran di dalam negeri, Aswin lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Pembeli biasanya datang sendiri ke workshopnya di Ciledug, Tangerang.

Beda dengan Aswin, Tarlen Handayani, pemilik Vitarlenology di Bandung, mengkombinasikan barang baru dan bekas untuk produknya. Ia menggabungkan spanduk dan poster bekas dengan aneka kain tradisional Indonesia. “Saya tertarik untuk mengeksplorasi kain dari daerah Timur Indonesia,” ujarnya. Sehingga, desainnya lebih condong ke pop art yang warna-warni.

Tarlen menjual produk tas laptop, dompet, dan tas belanja dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 150.000. Namun, ia tidak memasang harga berdasarkan banyaknya bahan yang dipakai, melainkan tingkat kesulitan pembuatannya.

Konsumen berani membayar mahal untuk menghargai ide dan keunikan produknya. Kebanyakan barangnya dikoleksi oleh para penggila fanatik, yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke atas.

Dalam sebulan Tarlen mampu memproduksi sekitar 100 produk. Jumlah produksinya sedikit karena ia lebih mengutamakan keunikan. Ia menitipkan beraneka produknya di Selasar Sunaryo, Tobucil n Klabs, dan toko buku. (peluangusaha.kontan.co.id)

Semoga sharingnya bermanfaat.

Advertisements
Posted in Economic | Leave a comment

PEMANFAATAN BAKTERI NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI PADA TEKNOLOGI BIOFILTER SEBAGAI PEREDUKSI POLUTAN NOx

Lingkungan sangat erat kaitannya dengan keberlangsungan kehidupan hayati. Kerusakan terhadap lingkungan sangat berpengaruh terhadap habitat di dalamnya. Kerusakan lingkungan diakibatkan oleh banyak hal yang salah satunya berasal dari emisi gas seperti CO2, methana, dan NOx masing-masing sebesar 72%, 18%, dan 9% yang berkontribusi pada pemanasan global (Robert, 2000).

Tren emisi NOx di berbagai belahan dunia cenderung menaik terutama di Asia (lihat gambar 1). Mayoritas penyebab timbulnya polutan NOx adalah imbas dari pembakaran pada industri dan kendaraan bermotor yaitu sebesar 34-73% (D’Green Community, 2008). Sementara itu, berdasarkan Environtmental Protection Agency, dinyatakan bahwa sumber pembentukan NOx pada tahun 2003 berasal dari Industri sebesar 22%, peralatan-peralatan (utilities) sebesar 22%, dan sumber lainnya sebesar 1%. Sedangkan, penyumbang pembentukan NOx yang paling terbesar adalah berasal dari kendaraan bermotor yaitu sebesar 55% (EPA US, 2010).

Dari 3 gas tersebut, NOx memiliki dampak terhadap pemanasan global 298 kali lebih besar dibandingkan dengan CO2 (Anonim, 2010: 1). Keberadaan NOx diudara dapat dipengaruhi oleh sinar matahari yang mengikuti daur reaksi fotolitik NO2 yang nantinya dapat bereaksi dengan ozon (chem-is-try.com, 2009). Berikut reaksi polutan NOx dalam penipisan lapisan ozon.

NO2 + sinar matahari              →            NO + O

O + O2 →            O3 (ozon)

O3 + NO                                  →            NO2 + O2

Selain akan menyebabkan pemanasan global, pencemaran polutan NOx baik berupa NO maupun NO2 ini dapat mengganggu kesehatan makhluk hidup baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Pada manusia dan hewan, polutan ini akan menyebabkan peradangan pada paru-paru. Apabila kadar NO2 mencapai 5 ppm akan mengakibatkan kesukaran untuk bernafas dan dapat menyebabkan kematian (Yuki, 2009). Pada tumbuhan, kadar NO yang mencapai 10 ppm akan menurunkan kemampuan tumbuhan untuk berfotosintesis sebanyak 60-70% (Yuki, 2009).

NOx sulit terurai di udara. Untuk mengurainya diperlukan perlakuan khusus seperti penggunaan suhu tinggi. Teknologi tradisional gas buang NOx yang digunakan saat ini seperti selective catalytic reduction (SCR) dan selective non-catalytic reduction (SNCR) membutuhkan suhu yang tinggi, penggunaan katalis, biaya instalasi dan operasional yang tinggi serta menghasilkan produk buangan dalam jumlah cukup besar (Josia, 2008: 1). Oleh karena itu, diperlukan teknologi kontrol pembuangan gas yang hemat energi, efisien, dan murah yaitu dengan teknologi biofilter.

Teknologi biofilter pereduksi polutan NOx akan memanfaatkan mikroba denitrifor. Mikroba tersebut diinokulum atau diimobilisasi dalam media kompos yang telah dimasukkan pada reaktor bersistem batch. Setiap gas NOx yang ada dialirkan ke dalam reaktor tersebut. Biofilter pada reaktor tersebut akan memfiltrasi gas NOx dan mengubahnya  menjadi gas N2 yang tidak berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan.

Nitrogen oksida diproduksi dan dikonsumsi oleh mikroba melalui proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Umumnya hal seperti ini berasal dari tanah. Namun, kali ini diaplikasikan dalam teknologi biofilter. Pada Teknologi biofilter, bakteri denitrifikasi akan mengikat senyawa-nyawa nitrogen yang bebas di udara. Senyawa NOx yang dialirkan ke biofilter akan diadsorpsi oleh media kompos. Adsorpsi ini sesuai dengan adsorpsi Langmuir (Sontheimer, 1998). Bakteri nitrifikasi akan mengubahnya menjadi Ammoniak (NH4).  Ammoniak ini nantinya akan digunakan oleh bakteri denitrifikasi menjadi gas N2.

Beberapa peneliti melaporkan kesuksesan dalam mengontrol emisi NO dengan mempromosikan mikroba denitrifikasi dalam biofilter (Skiba, 2008: 1527-1536). Sehingga didalamnya dapat mengubah senyawa NOx menjadi senyawa yang tidak berbahaya (NO3 à NO2 à NO à N2O à N2).

Dalam artikel ini akan dipaparkan tentang manfaat dari aplikasi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi pada teknologi biofilter, menganalisis mekanisme pada teknologi biofilter untuk mereduksi polutan NOx, dan penambahan nutrisi pada teknologi biofilter untuk mereduksi NOx.

Prinsip Kerja Teknologi Biofilter

Setiap teknologi pasti memiliki sebuah prinsip kerja yang menjadi sebuah landasan agar teknologi itu diketahui maksud dan tujuannya. Adapun prinsip kerja dari teknologi biofilter adalah dengan prinsip adsorpsi kontaminan oleh pupuk kemudian zat kontaminan tadi didegradasi oleh mikroba dengan cara oksidasi dan menghasilkan keluaran biomassa yang tidak berbahaya.

Sedangkan prosedur kerja dari teknologi biofilter adalah sebagai berikut (Josia, 2008: 39),

a.       Memasukkan gas NOx dari tabung dengan menentukan laju alirnya dengan kondisi valve dalam keadaan on.

b.      Kemudian gas akan memasuki kolom biofilter dimana di kolom tersebut terdapat pupuk kompos berisi mikroba yang diimobilisasi dengan Ca-aginate pellets. Di bagian ini, gas NOx akan mengalami adsorpsi oleh kompos. NOx yang telah ditampung tersebut di alirkan menuju biofilter. Adsorpsi terjadi ketika molekul-molekul yang berada di sekitar permukaan suatu zat padat dapat mengikat molekul senyawa cair atau gas yang dapat larut di dalamnya. Proses adsorpsi yang mengikuti adsorpsi isotermnis Langmuir.

c.       Gas NOx akan mengalami nitrifikasi dan denitrifikasi oleh mikroba menjadi gas yang tidak berbahaya yaitu N2.

  • Nitrifikasi

NH3+ + CO2 +  O2 + Nutrien à H2O + NO3 + H+ + sel baru (Nitritasi)

NO2+ CO2 +  O2 + Nutrien à H2O + NO3 + H+ + sel baru (Nitratasi)

  • Denitrifikasi

NO3 + substrat → N2 + CO2 + H2O + sel

NO3 à NO2 à NO à N2O à N2

d.      Gas buang berupa N2 yang tidak berbahaya akan keluar dari pipa dibawah kolom biofilter.

Pengaruh Nutrisi Terhadap Reduksi NOx

Pemberian nutrisi akan mempengaruhi kinerja dari teknologi biofilter. Jika dilakukan percobaan sebanyak dua kali, dimana pada percobaan pertama, pupuk tak diberi nutrisi dan pada percobaan kedua, pupuk diberikan nutrisi dan masing-masing percobaan dilakukan selama 6 jam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada percobaan dengan pupuk tanpa nutrisi, dihasilkan efisiensi reduksi NOx sebanyak 70%, sementara pada percobaan dengan pupuk yang diberikan nutrisi akan dihasilkan efisiensi reduksi NOx sebesar 91,49%.

Hal ini terjadi karena pada pupuk yang diberikan nutrisi, kemampuan mikroba dalam mendegradasi NOx akan meningkatkann. Adapun nutrisi yang diberikan mengandung unsur C, N dan P dengan rasio 100 : 10 : 1 dalam 1 liter air. Rasio ini dianggap paling optimum dalam mendegradasi senyawa nitrogen. Adapun unsur C berperan dalam penyusunan sel-sel bakteri, lalu unsur N berperan dalam penyusunan asam nukleat, asam amino dan enzim-enzim, dan unsur P memiliki andil dalam pembentukan asam nukleat dan Fosfolipid. Sumber nutrisi C berasal dari CH3COONa, sumber nutrisi N berasal dari NH4Cl dan sumber nutrisi P berasal dari K2HPO4.

Kelebihan Teknologi Biofilter untuk Mereduksi Polutan NOx

Kelebihan dari teknologi biofilter dengan cara mengambil data dari analisis-analisis yang telah dilakukan sebelumnya. Adapun kelebihan dari teknologi biofilter adalah aman, efisien, konsumsi energi rendah, dan murah.

Teknologi biofilter bersifat aman karena teknologi biofilter mengonversi senyawa organik yang berbahaya (dalam hal ini NOx) menjadi gas anorganik yang tidak berbahaya (dalam hal ini N2). Teknologi biofilter ini juga tidak mengeluarkan produk sampingan sehingga fokus keluaran lebih gampang dipantau. Selain itu, teknologi biofilter ini juga tidak melibatkan perlatan-peralatan berbahaya. Dengan desain yang sederhana dan mudah digunakan, membuat teknologi ini bersifat aman untuk diterapkan.

Teknologi biofilter bersifat efisien karena teknologi ini mampu mereduksi gas NOx yang merupakan polutan dengan hasil yang memuaskan. Seperti telah dipaparkan di poin sebelumnya, dengan konfigurasi tinggi kolom biofilter dan laju alir gas serta dengan penambahan nutrisi pada pupuk akan menghasilkan efisiensi reduksi hingga angka 91,49%.

Selain itu, teknologi biofilter hanya menggunakan konsumsi energi yang rendah, hal ini terlihat dari peranan mikroba yang merupakan satu-satunya pemberi energi pada sistem. Pada teknologi biofilter, tidak diperlukan energi dari pembakaran, karena sistem ini murni memakai energi yang berasal dari mikroba.

Teknologi biofilter bersifat murah karena teknologi ini menggunakan desain alat yang sederhana dan harganya relatif murah. Kemudian otak dari teknologi ini yang berupa mikroba juga dengan mudah didapat, karena mikroba yang dimaksud ada pada pupuk kompos yang gampang dicari dan murah harganya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENDIDIKAN KEBIDANAN PADA CALON PARAJI UNTUK MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU

Lebih dari separo (104,6 juta orang) dari total penduduk Indonesia (208,2 juta orang) adalah perempuan. Namun, masih sedikit sekali perempuan yang mendapat akses dan peluang untuk berpartisipasi pembangunan. Ini terlihat dari semakin turunnya nilai Gender Development Index (GDI) Indonesia dari 0,651 atau peringkat ke 88 (HDR 1998) menjadi 0,664 atau peringkat ke 90 (HDR 2000). Tingkat HDR tersebut berpengaruh pula pada tingginya AKI. Padahal, rendahnya AKI mengindikasikan kemajuan pembangunan kesehatan di Indonesia masih tergolong rendah (WRI, 2007). Data SDKI pada tahun 2007 mencatat bahwa AKI di Indonesia masih mencapai angka 228/100.000 penduduk meskipun angka tersebut mengalami penurunan dari 304/100.000 penduduk pada tahun 2003 (Noerdin, 2006). Di negara maju, diperkirakan kesalahan perhitungan AKI mencapai 50 persen. Oleh karena itu, diperkirakan AKI di Indonesia mungkin mencapai 594/100.000 (Kompas dalam Noerdin dkk., 2006). Namun, angka tersebut masih tergolong tinggi mengingat target AKI Indonesia pada MDGs 2015 nanti ialah 102/100.000 penduduk.

Selanjutnya, sebanyak 80% perempuan yang hamil, melahirkan, dan meninggal tinggal di perdesaan, 40% di antaranya tinggal di rumah-rumah dengan luas kurang dari 50 m2 dan 26% darinya tinggal di rumah berlantai tanah (BKKBN dalam Noerdin, 2006). Hasil penelitian lain ditemukan bahwa ternyata sekitar 65% seluruh masyarakat miskin, berdasarkan data dari World Bank pada tahun 2006, 35% menggunakamn jasa paraji, dan sisanya (65%) menggunakan penyedia layanan kesehatan rakyat seperti bidan di desa (29%), Puskesmas (26%), Puskesmas pembantu (Pustu) (10%), dan Posyandu (1%) (Mukherjee, 2006:16).

Meski praktik paraji tergolong sedikit dibandingkan jumlah persen seluruh pelayanan lainnya, AKI di Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di Asia dan dunia. Praktik paraji kerap dijadikan pilihan alternatif para calon ibu untuk membantu persalinan. Campur tangan paraji jauh lebih besar dibandingkan dengan bidan dalam proses persalinan terjadi di masyarakat luar jawa. Sebagai perbandingan, partisipasi bidan dan dokter di Surakarta hampir menncapai 98% sedangkan di kota Lebak partisipasi dukunlah yang mencapai angka 80% (Women Research Institute, 2008). Ditambah pula dengan hasil yang diperoleh World Bank pada tahun 2006 dalam Mukherjee ditemukan 76% perempuan miskin lebih memilih paraji untuk membantu persalinan karena akses pelayanannya yang dianggap lebih mudah diperoleh, sedangkan 64% laki-laki miskin memilih karena menimbang pilihan terhadap besar biaya yang digunakan. Sebagai contoh, biaya yang dikeluarkan untuk Paraji (Dukun beranak) di Soklak Jawa Barat ialah sekitar Rp.50.000,00-Rp.100.000,00, atau Rp.50.000,00 ditambah dengan 5 kg beras, sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk bidan desa ialah antara Rp.300.000,00-Rp.400.000,00. Hal tersebut menunjukkan bahwa biaya bidan jauh lebih mahal dibandingkan dengan paraji (Mukherjee, 2006:18).

Kenyataan banyaknya paraji yang lebih dimanfaatkan masyarakat pun tidak sampai situ. Dibandingkan dengan penyebab kematian ibu yang lain, di kota Cimahi 11,11 persen persalinan yang dibantu oleh paraji meninggal dunia (Harian Umum Pelita, 2010). Pun demikian dengan yang terjadi di kota Sukabumi, di mana pada tahun 2009 tercatat 43 ibu meninggal dunia dalam persalinan, dengan 31 orang di antaranya dibantu oleh paraji (Noviansyah, 2010).

Sayangnya, praktik paraji yang beresiko tersebut tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk beralih ke bidan maupun dokter. Oleh karena itu, bila hanya mengharapkan ditambahnya tenaga terdidik seperti bidan, pembantu bidan, dan fasilitas-fasilitas ruangan persalinan, pemecahan ini masih akan sulit, memakan waktu yang lama, dan membutuhkan pembiayaan cukup besar. Ditambah lagi, jumlah bidan di pedesaan tidak banyak, sebanyak 30 ribu desa dari 85 ribu desa di Indonesia hingga kini belum memiliki bidan desa (Kuswandi dalam TVonenews&sport, 2010). Hal tersebut menyebabkan praktik paraji yang telah membudaya dan turun-temurun  dilakukan masyarakat semakin sulit dihindari. Salah satu cara menurunkan angka kematian ibu (AKI) ialah mengadakan suatu pendidikan kebidanan pada para calon paraji.

Dengan adanya para ahli bidan yang datang dari keturunan paraji, tentunya masyarakat desa dapat dengan tenang menerima pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas yang tidak lepas dari kearifan dasar para paraji yang telah membudaya turun-temurun.

Pendidikan Calon Paraji

Pendidikan terhadap calon paraji merupakan terobosan untuk menurunkan angka kematian ibu di Indonesia. Paraji juga akan dibekali dengan pengetahuan kesehatan masyarakat yang berguna untuk mencegah terjadinya hal-hal membahayakan kesehatan ibu selama kehamilan berlangsung dan selama terjadi persalinan. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan keselamatan ibu pascapersalinan.

Pendidikan terhadap calon paraji dilakukan untuk memudahkan penerimaan informasi dari calon paraji, khususnya yang berkaitan dengan ilmu persalinan, kepada ibu hamil untukmenjaga kesehatan.  Jika pendidikan dilakukan terhadap paraji yang sudah melakukan praktik, dikhawatirkan pendidikan yang dilangsungkan tidak mendapat tanggapan yang serius.  Paraji yang sudah melaksanakan praktik memiliki pikiran bahwa praktik yang mereka lakukan sudah sepenuhnya benar sehingga tidak memerlukan pendidikan tambahan.

Pendidikan calon paraji juga bermanfaat untuk menghadirkan sarana pelayanan kesehatan di daerah-daerah yang masih atau bahkan belum memiliki sarana pelayanan kesehatan yang memadai.  Meskipun demikian, pendidikan ini tidak ditujukan untuk menghapuskan kewajiban pemerintah dalam memberikan sarana dan pelayana kesehatan yang layak bagi rakyatnya. Program ini hanyalah bagian dari rencana jangka pendek pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia guna mencapai target MDGs pada tahun 2015 nanti.

Pendidikan calon paraji merupakan sebuah langkah tepat yang dapat menyatukan ilmu medis modern yang ada pada bidan dengan praktik pelayanan kekeluargaan yang telah membudaya di masyarakat pada dukun anak (paraji).

Pendidikan kebidanan pada calon paraji telah memenuhi tiga aspek yang dibutuhkan dalam menyatukan dua budaya berbeda yang dikenalkan oleh Michael Winkelman dalam Anggoroadi, rintangan sosial (social barrier), dan rintangan psikologi (psichological barrier).

1.      Lunturnya rintangan budaya dalam kemitraan bidan dan  paraji

Paraji telah turun-temurun menjadi orang yang berpengaruh pada proses persalinan. Oleh karena itulah tidak aneh jika pada akhirnya peran paraji telah membudaya di masyarakat. Peranan mereka dalam proses kehamilan dan persalinan berkaitan erat dengan budaya dan kebiasaan setempat. Sayangnya, Paraji yang biasa ditemukan di desa saat ini bukanlah paraji yang memahami benar bagaimana cara melayani asuhan prapersalinan, persalinan, serta pascapersalinan. Pendidikan kebidanan pada calon paraji tentunya dapat membantu kekurangan paraji dalam hal persalinan medis ini.

2.      Paraji lebih mudah diterima masyarakat

Di tengah keterbatasan jumlah bidan dan tenaga kesehatan lain, keberadaan paraji  dirasakan manfaatnya oleh warga di daerah terpencil. Di sejumlah kampung di Desa Cikondang, Garut, misalnya, hampir seluruh bayi dilahirkan dengan bantuan paraji (Rachmawati, 2007).

Hampir di tiap kampung ada lebih dari satu paraji yang siap dipanggil ke rumah warga untuk memijat ibu hamil, membantu persalinan, sampai memimpin upacara adat menyambut kelahiran bayi. Peran penting itu membuat keberadaan mereka telah berkembang jadi tokoh adat setempat yang dihormati. Padahal, jika dilihat dari sisi ekonomi, uang yang diperoleh sebagai paraji jauh lebih murah dibandingkan dengan idan. Bahkan ada yang hanya membayar Rp 15.000. Itu pun banyak yang mencicil pembayarannya.

Kondisi ini membuat masyarakat cenderung menggunakan jasa paraji dalam membantu persalinan. Sejumlah warga di daerah selatan Garut mengaku melahirkan anak-anak mereka dengan bantuan paraji meski rutin memeriksakan kehamilan pada bidan. Jika mengalami komplikasi seperti perdarahan, masyarakat baru minta pertolongan bidan (Rachmawati, 2007).

3.      Psikologis masyarakat tetap tidak berubah

Dukun dilihat mempunyai ’jampe-jampe’ yang kuat sehingga ibu yang akan bersalin lebih tenang bila ditolong oleh dukun. Akibat dari membudayanya paraji di masyarakat. Selain itu, baik di desa maupun di perkotaan, dukun termasuk tipe pemimpin informal karena pada umumnya mereka memiliki kekuasaan dan wewenang yang disegani oleh masyarakat sekelilingnya. Wewenang yang dimilikinya terutama adalah wewenang karismatis. Secara teoretis, wewenang dapat dibedakan atas wewenang tradisional, wewenang rasionil dan wewenang karismatis. Dukun dianggap sebagai orang yang memiliki kekuasaan karismatis (Adimihardja K dalam Angorodi, 2006).

Dengan adanya akulturasi tersebut, masyarakat pedesaan yang masih menghargai peran paraji diharapkan semakin memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi yang baik.

Potensi Pendidikan Calon Paraji terhadap Penurunan AKI di Indonesia

Pendidikan terhadap paraji berpotensi menurunkan kematian ibu di Indonesia.  Berikut ini beberapa potensi dari program pendidikan terhadap calon paraji dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di Indonesia.

1.   Meningkatkan ketersediaan tenaga medis di daerah-daerah terpencil. Paraji yang terdidik dan menguasai ilmu medis maupun kesehatan masyarakat dapat meningkatkan ketersediaan tenaga medis di daerah-daerah. Hal ini dengan sendirinya akan meningkatkan keterpaparan masyarakat terhadap akses sarana pelayanan kesehatan.

2.      Mengurangi praktik pertolongan persalinan yang tidak aman sehingga mengurang risiko terjadinya komplikasi pada persalinan.

3.      Memudahkan penanganan dan pemberian rujukan bila terjadi perdarahan atau komplikasi dalam persalinan.

4.      Perawatan sebelum kehamilan yang senantiasa dilakukan paraji akan dipadukan dengan pemeriksaan ANC (antenatal care) terhadap ibu hamil.  Hal ini dengan sendirinya akan meningkatkan persentase pemeriksaan ANC pada ibu hamil yang akan menurunkan risiko kematian ibu.

5.      Perawatan setelah kehamilan yang dilakukan paraji juga akan membantu meningkatkan kesehatan ibu pascapersalinan.

6.      Paraji juga dapat berperan sebagai kader dalam menyebarluaskan dan mengkomunikasikan program KB ke masyarakat sehingga masyarakat dapat mengenal berbagai metode KB dan memutuskan sendiri mana pilihan yang paling tepat untuknya. Hal ini akan menurunkan risiko kematian ibu akibat kehamilan pada usia tua atau terlalu sering hamil.

7.      Mempromosikan upaya kesehatan Reproduksi. Promosi kesehatan reproduksi ini dapat saja dimulai dari masa prapersalinan, persalinan, serta pasapersalinan. Promosi ini dapat dijadikan sebuah langkah jitu yang jika berhasil justru dapat mensukseskan target pencapaian AKI yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Dengan melalui paraji sebagai seorang ‘tokoh’ yang sangat dipercayai masyarakat desa, beserta bidan sebagai orang yang dianggap ahli medis di sampingnya, promosi ini dapat berjalan dengan lancar.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Upaya Menghadapi Tantangan dan Memajukan Peranan Teknologi Informasi untuk Keunggulan Kompetensi Bangsa dan Negara di Era Golobalisasi

Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia.

Era Globalisasi ini ditandai oleh tiga kondisi yang dominan, yakni perubahan yang cepat, persaingan yang sengit, dan tuntutan yang meningkat. Dengan terbatasnya sumber daya dan ketatnya alokasi faktor-faktor produksi, persaingan menjadi suatu menu keseharian. Era globalisasi yang memberikan kemudahan dan kebebasan dalam mendapatkan informasi memberikan implikasi meningkatnya pemahaman tentang harkat dan kualitas hidup manusia.

Kalau diamati, negara-negara di Asia, seperti Singapura dan Jepang dapat dikatakan menjadi kawasan yang paling cepat mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan wilayah lainnya yang sudah lebih dulu melaju. Asia diperkirakan akan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi dunia di masa mendatang, khususnya di era globalisasi saat ini. Mengingat kawasan Asia merupakan kawasan dengan rasio pertumbuhan tercepat dibanding kawasan lainnya. Oleh sebab itu, Negara-negara Asia harus mempersiapkan diri menjadi salah satu kunci vital roda ekonomi dunia di masa mendatang.

Menurut Teo Chee Hean–Deputi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Singapura–mengatakan motor pertumbuhan ekonomi Asia terutama akan terkonsentrasi di kawasan Asia Tenggara yang akan menjadi sebuah pasar yang signifikan dan penting bagi perekonomian dunia di masa mendatang. Untuk menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi, menurutnya ada tiga  hal utama yang harus diperhatikan oleh masyarakat Asia, khususnya Asia Tenggara untuk membekali diri memasuki era globalisasi. Pertama, perhatian dunia dimasa mendatang akan fokus pada wacana lingkungan hidup. Kedua, mengingat pertumbuhan Asia yang sangat cepat, lebih cepat ketimbang pertumbuhan dunia yang mengakibatkan perlu memastikan tingkat kualitas hidup masyarakat Asia dimasa mendatang. Dan ketiga, perkembangan/pergerakan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, yaitu ponsel dan internet akan menyediakan wadah bagi munculnya perangkat interaksi dan komunikasi baru yang akan berdampak pada terjadinya perubahan sosial secara cepat.

Pertama, isu lingkungan hidup yang disebut sebagai faktor pertama yang harus diperhatikan Asia, akan menjadi hal utama bagi individu dan pemerintahan di masa mendatang. Faktor lingkungan hidup ini akan difokuskan dalam mencari solusi masalah pemanasan global, baik negara maju atau berkembang akan menghadapi problem yang sama dalam anggaran/pembiayaan, adaptasi, dan transfer teknologi yang harus dicari solusinya. Oleh sebab itu, masyarakat Asia harus menjadi bagian dalam upaya penyelesaian berbagai tantangan hambatan tersebut mengingat Asia dinilai sebagai salah satu wilayah yang paling rentan terhadap terjadinya perubahan lingkungan.

Faktor kedua, yang dinilai harus diperhatikan masyarakat Asia mengenai masalah pertumbuhan cepat kawasan Asia daripada dunia. Pertumbuhan cepat berarti mendorong terjadinya percepatan industrialisasi dan urbanisasi Asia. Percepatan ini akan memberikan dampak signifikan kepada ketersediaan pangan, energi dan sumber daya alam. Oleh sebab itu, perlu peran aktif dari berbagai pihak untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bertentangan dengan hal tersebut, pertumbuhan cepat di kawasan Asia tidak diiringi dengan peningkatan populasi produktif. Oleh sebab itu, kawasan Asia dihadapkan dengan situasi kekurangan polulasi produktif di masa mendatang.  Upaya yang dilakukan Pemerintah di kawasan Asia perlu fokus memperhatikan ancaman kekurangan usia produktif ini, khususnya terhadap dampaknya pada kemampuan kompetisi ekonomi, jaminan kesehatan dan penurunan pasokan pangan di Asia.

Faktor terakhir, yang perlu diperhatikan adalah perkembangan teknologi global yang sangat cepat. Menurutnya, perkembangan teknologi, terutama di bidang informasi dan komunikasi, akan mendorong terjadinya benturan antarnegara, budaya, dan agama. Oleh sebab itu, diperlukan peran aktif masing-masing negara Asia, khususnya Asia Tenggara untuk mengembangkan program-program edukasi masyarakat untuk mencegah terjadinya benturan-benturan tersebut.

Dalam menghadapi dan menyadari ketiga kondisi yang melekat pada globalisasi tersebut, manusia berusaha untuk menciptakan berbagai kiat, salah satu adalah pemberdayaan dan pemanfaatan teknologi. Selain teknologi ruang angkasa, teknologi sumber daya energi, teknologi material baru, dan bioteknologi, teknologi unggulan yang banyak diandalkan masyarakat dunia adalah teknologi informasi. Teknologi yang basis inovasinya adalah mikroelektronik ini mendukung lompatan jauh dalam pengembangan luar biasa bidang telekomunikasi, multimedia dan informatika. Secara umum, era globalisasi sekarang ini dianggap sebagai era cyberspace atau ruang maya.

Dengan kapabilitas olah yang tinggi, kapasitas simpan dan transmisi data dan informasi yang masif, serta bentangan jejaring dengan jangkauan yang hampir tanpa batas, pemberdayaan dan pemanfaatan teknologi informasi yang baik, dianggap mampu meredam sisi negatif dari kondisi-kondisi yang terkait dengan Globalisasi. Kemampuan akses yang semakin tajam dan terpercaya, perancangan sistem yang mudah dan ramah terhadap perubahan, dan koneksi yang tidak mengindahkan aspek waktu dan ruang merupakan kunci tantangan persaingan di era globalisasi.

Akan tetapi, kemampuan untuk memberdayakan dan memanfaatkan teknologi informasi ini berbeda antara satu negara dengan negara yang lain. Demikian pula antara institusi satu dengan lainnya. Kesenjangan ini dipicu oleh berbagai faktor, antara lain tingkat penguasaan teknologi, tingkat pemanfaatan aplikasi, kuantitas dan kualitas SDM, ketersediaan dan keterjangkauan jejaring, dan modal/dasar pengetahuan. Selain faktor tersebut, kesenjangan dapat pula muncul dari faktor, seperti tingkat pemahaman masyarakat akan budaya informasi, kemantapan aspek legal yang terkait dengan security, privacy dan piracy, dan kemampuan tata kelola dan pengawasan penyelenggaaan pemanfaatan teknologi informasi.

Sehubungan dengan hal diatas, faktor sebuah negara memiliki kapabilitas dalam hal teknologi informasi yang digunakan untuk memilah kelompok information rich dan information poor, dapat dilihat melalui indikator-indikator, antara lain densitas pengguna telepon, jumlah kapasitas Mbit yang ditransmisikan, perangkat computer yang terpasang, jumlah Internet Services Provider dan pengguna internet, dan tingkat ketergantungan terhadap aplikasi. Selain itu, ada indikator lain yang turut dipertimbangkan misalnya tingkat peran serta dan dukungan Pemerintah, pemberlakuan cyber-law dan intensitas pelanggaran HAKI.

Memang pada awalnya Teknologi Informasi menjadi motor penggerak lahirnya konsep globalisasi yang borderless, seamless, wireless dan paperless. Namun, kini terjadi hubungan kausal dimana kondisi-kondisi globalisasi yang telah diuraikan di atas menjadi katalisator malahan pemicu perkembangan hebat teknologi informasi.

Memahami dan menyadari pentingnya teknologi informasi dalam era Globalisasi sekarang ini, maka perlu masyarakat Indonesia, terutama kalangan terpelajar, untuk memahami dan meningkatkan pengetahuan tentang teknologi ini. Kompetensi di bidang teknologi informasi menjadi suatu kompetensi terpadu untuk bidang ilmu lainnya, termasuk ilmu sosial, seperti ekonomi, administrasi, komunikasi, sampai dengan hukum. Dari segi ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya di masa mendatang, apabila  tidak dapat diantisipasi maka era globalisasi dan informasi akan menjadi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dalam proses pembudayaan nilai-nilai ideologi sebagaimana terkandung dalam pancasila dan UUD 1945.

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datangnya lebih cepat dari dugaan semua pihak adalah perkembangan pesat teknologi informasi yang signifikan. Implementasi internet, electronic commerce, electronic data interchange, virtual office, telemedicine, intranet, dan sebagainya yang telah menerobos batas-batas fisik antarnegara. Penggabungan antara teknologi komputer dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi dibidang sistem informasi. Data atau informasi yang dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik.

Perubahan informasi saat ini seakan-akan tidak lagi dalam skala hari atau bahkan jam, melainkan sudah mencapai skala menit maupun detik. Penekanan akan memaksimumkan sumber daya manusia di semua sektor, berarti kita akan membutuhkan sistem komunikasi yang sangat efektif. Apabila kita merespons pada kebutuhan fokus awal seharusnya lebih berdasarkan penerimaan informasi daripada penyebaran informasi.

Pada satu sisi, teknologi informasi akan berperan besar dalam mewujudkan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, keadilan dan independensi, sedangkan pada sisi lain prinsip-prinsip tersebut patut diterapkan dalam pemanfaatan teknologi informasi itu sendiri. Penerapan prinsip ini yang disebut sebagai tata kelola teknologi informasi. Keberhasilan implementasi suatu aplikasi teknologi informasi ditentukan oleh tingkat pemanfaatan yang tercipta dan kemampuan untuk mencegah atau setidak-tidaknya mengurangi sisi negatif yang timbul. Oleh karena itu, selain ilmu yang berkenaan dengan pemanfaatan teknologi informasi, juga perlu diberikan ilmu yang berkenaan dengan pengawasan, pengendalian, dan pengamanan teknologi informasi.

Tidak ada yang dapat menahan lajunya perkembangan teknologi informasi. Keberadaannya telah menghilangkan garis-garis batas antar negara dalam hal flow of information. Tidak ada negara yang mampu untuk mencegah mengalirnya informasi dari atau ke luar negara lain karena batasan antara negara tidak dikenal dalam virtual world of computer. Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, Internet, dan lain-lain semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat.

Untuk dapat tetap diperhitungkan di dalam kancah pergaulan global, kita harus semakin mantap dalam penguasaan dan pemanfaatan teknologi Indonesia. Tidak hanya sekedar maju, tetapi maju dengan kecepatan dan percepatan yang memungkinkan kita untuk mengimbangi negara-negara lain yang pasti juga akan melakukan hal yang sama pula.

Globalisasi telah membuat dunia menjadi kecil. Manusia bisa saling berinteraksi dengan tidak lagi dipisahkan dengan jarak ruang dan waktu. Walau demikian, dunia kini menghadapi ketidakseimbangan yang luar biasa dengan meningkatnya kemiskinan, kekerasan dan perusakan lingkungan. Maka kini ada satu kebutuhan untuk menghubungkan globalisasi dengan keadilan ekonomi, sosial, ekologis dan politik, baik pada tingkat global ataupun nasional.

Dalam memasuki milenium ketiga ini, Indonesia mempunyai harapan yang besar akan masa depan sistem pendidikan Indonesia. Perlu disusun kebijakan pendidikan nasional yang baik yang selaras dengan era globalisasi sekarang ini. Reformasi dalam bidang pendidikan sangat penting mengingat kita tidak rela menghadapi kenyataan bahwa generasi muda kita menjadi the lost generation. Keputusan-keputusan yang tidak konseptual mengenai pendidikan nasional akan sangat fatal bagi terwujudnya cita-cita bangsa yaitu membangun masyarakat Indonesia baru yang demokratis, damai, berkeadilan dan sejahtera

Globalisasi bisa dianggap sebagai penyebaran dan intensifikasi dari hubungan ekonomi, sosial, dan kultural yang menembus sekat-sekat geografis ruang dan waktu. Dengan demikian, globalisasi hampir melingkupi semua hal yang berkaitari dengan ekonomi, politik, kemajuan teknologi, informasi, komunikasi, transportasi, dll.

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan global, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global, kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun nonakademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Dalam menghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia dengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non formal.

Sudah saatnya pembangunan pendidikan yang terpadu dan terarah berbasis teknologi paling akan memberikan multiplier effect dan nurturant effect terhadap hampir semua sisi pembangunan pendidikan sehingga teknologi informasi berfungsi untuk memperkecil kesenjangan penguasan teknologi mutakhir khususnya dalam dunia pendidikan. Pembangunan pendidikan berbasis teknologi informasi setidaknya memberikan dua keuntungan. Pertama, sebagai pendorong komunitas pendidikan untuk lebih apresiatif dan proaktif dalam maksimalisasi potensi pendidikan. Kedua, memberikan kesempatan luas kepada peserta didik memanfaatkan setiap potensi yang ada dapat diperoleh dari sumber-sumber yang tidak terbatas.

Mengingat betapa pentingnya peranan teknologi informasi dalam era Globalisasi sekarang ini, perlu setiap lapisan masyarakat, khususnya golongan akademisi dan pelajar, untuk memahami dan meningkatkan pengetahuan tentang teknologi ini. Selain itu, penerapan teknologi informasi dan komunikasi bermanfaat untuk peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya adalah kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan biasanya diajukan untuk pengembangan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan. teknologi informasi dan komunikasi sangat mampu menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi nusantara. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan tinggi perlu segera membenahi kurikulum, melengkapi fasilitas, dan membangun lingkungan yang kondusif memungkinkan pembangunan sumber daya insani yang sadar teknologi informasi dan sekaligus mampu dan terampil dalam pemanfaatannya.

Berdasarkan ulasan diatas, jika semua komponen bangsa memiliki jiwa semangat yang tinggi, kapabilitas dan integritas SDM yang berkompeten, peran pendidikan nasional yang menyeluruh dan berkualitas, tingkat penguasaan teknologi yang matang, ketersediaan jejaring teknologi dalam masyarakat yang memadai, dan kemampuan tata kelola dan pengawasan penyelenggaaan pemanfaatan teknologi informasi yang baik, persoalan bangsa dan Negara kita yang  mengalami krisis multidimensional secara berangsur akan dapat teratasi dan perkembangan teknologi informasi akan dapat mengikuti percepatan perkembangan dan mampu bersaing dengan negara-negara lain yang semakin maju pula di era globalisasi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

OPTIMALISASI BUDAYA LITERASI DI KALANGAN MAHASISWA: UPAYA MERETAS KOMUNIKASI GLOBAL

Globalisasi telah meretas sekat-sekat geografis negara dan memberikan pengaruh yang signifikan bagi dunia. Trend informasi yang begitu cepat menuntut setiap bangsa untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang dimilikinya. Selain itu, akselerasi diperlukan demi mengejar ketertinggalan, sekaligus menjembati jurang antara negara maju dan negara berkembang.

Dalam menjawab tantangan global, Indonesia membutuhkan tangan dingin para intelektual muda yang kompeten dan mampu bersaing di tingkat dunia. Pasalnya, posisi pemuda begitu strategis mengingat daya nalar dan semangatnya yang tinggi. Salah satu icon intelektual muda yang patut diperhitungkan saat ini adalah mahasiswa. Para mahasiswa memiliki kelihaian dalam berwacana, kemudian wacana itu dibumikan dan dikombinasikan dengan potensi kepemimpinan pada sebuah paket gerakan yang terpadu dan terancang rapi. Gerakan yang terpadu ini selanjutnya menjadi ciri khas para mahasiswa sebagai agen perubah (agent of change). Oleh karena itu, mereka memiliki tugas besar dalam meningkatkan  kompetensi, kontribusi, produktivitas, serta kapasitas intelektualnya (Imam, 2008).

Dalam berbicara mengenai respon intelektual, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan gagasan-gagasannya melalui proses kritik yang sehat. Salah satu ciri seorang intelektual adalah mereka yang mampu membumikan gagasannya dengan pena. Soe Hoek Gie, misalnya, dalam sejarah tercatat sebagai seorang mahasiswa yang kritis berani mengkritik tajam rezim Orde Lama dengan tulisan-tulisannya di media massa. Sederet nama seperti Pramoedya, Hamka, Rendra, Ayip Rosidi, dan Goenawan Mohammad adalah kaum intelektual yang membumikan gagasannya dengan pena. Dengan kata lain, mereka merupakan tokoh intelektual yang menggerakkan massa melalui budaya literasi (bahasa). Para penulis, menurut Régis Debray, seorang sosiolog, adalah kaum intelektual generasi kedua—setelah sebelumnya dikuasai oleh para pengajar (teachers) yang membela Dreyfus—seperti Émile Zola, Émile Durkheim dan Anatole France.

Lebih lanjut lagi, budaya literasi merupakan cermin kemajuan bangsa. Para Antropolog bahasa, seperti Lucian Levy-Bruhl, Claude Levi-Strauss, Walter Ong, dan Jack Goody memandang literasi (bahasa) sebagai titik pangkal pembeda masyarakat primitif dari masyarakat “beradab” (Ma’mur, 4:2010). Dengan demikian, untuk membuat pembaruan dalam negeri, para intelektual muda—yang dalam hal ini adalah mahasiswa—dituntut untuk aktif menjadi opinion leader melalui publikasi tulisan dan kemampuan berbahasa asing. Namun sayangnya, saat ini bangsa Indonesia tertinggal jauh dalam penerbitan buku, publikasi artikel, serta jurnal internasional. Tercatat pada 2003 silam, posisi Indonesia berada pada urutan 134 dunia, dengan indeks 0,88 artikel per 1 juta penduduk (Ma’mur, 32: 2010). Begitupun dengan publikasi jurnal internasional yang tertinggal jauh dari negara tetangga.

Oleh karena itu, melalui karya tulis ini, penulis bermaksud memaparkan bahwa saat ini dan ke depannya perlu dilakukan optimalisasi budaya literasi di kalangan mahasiswa. Sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat maka mahasiswa merupakan icon yang tepat untuk memperbarui citra dan kualitas SDM Indonesia di mata dunia. Dalam karya tulis ini, penulis membatasi lingkup permasalahan pada mahasiswa S1 karena rentang usia yang lebih muda dan aktivitas yang lebih homogen dibandingkan mahasiswa S2 dan S3.

Secara umum, penulis merumuskan beberapa pokok permasalahan, yaitu (1) Apakah peran budaya literasi dalam tingkat global? (2) Bagaimana optimalisasi budaya literasi di kalangan mahasiswa agar mampu menjawab tantangan global?

Adapun tujuan karya tulis ini adalah untuk menjelaskan urgensi budaya baca-tulis serta penguasaan bahasa asing bagi para mahasiswa S1. Selain itu juga penulis akan mengkaji upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan budaya literasi. Pada akhirnya, bertujuan untuk menjelaskan pentingnya antuasiasme mahasiswa terhadap budaya literasi dan kontribusi mereka terhadap masyarakat sekitar.

Urgensi Budaya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Bahasa merupakan cermin identitas sebuah bangsa. Bahasa meretas batas-batas geografis dengan keanekaragaman budayanya. Tanpa bahasa, tak ada wacana yang bisa diangkat, didiskusikan, dan dibumikan secara nyata. Di era globalisasi seperti saat ini, sebuah bangsa dapat menjangkau peradaban dunia melalui gerbang bahasa, yaitu kemampuan membaca dan menulis (budaya literasi).

Menurut Besnier (dikutip dalam Duranti, 2001; Ma’mur, 2010) dalam Key Concepts in Language and Culture sebagai “communication though visually decoded inscriptions, rather than though auditory and gestured channels”, literasi adalah komunikasi melalui inskripsi yang terbaca secara visual, bukan melalui saluran pendengaran dan isyarat. Inskripsi visual di sini termasuk di dalamnya adalah bahasa tulisan yang dimediasi dengan alfabet (aksara).

Salah satu tantangan terbesar dalam pemberdayaan bangsa ini adalah meninggalkan tradisi lisan (orality) untuk memasuki tradisi baca tulis (literacy) (Suroso, 11:2007). Bagaimanapun, era informasi telah menciptakan ruang yang luas terhadap tumbuh kembangnya media tulis. Data dari Association For the Educational Achievement (IAEA), misalnya, mencatat bahwa pada 1992 Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Sementara itu, dari 30 negara, Indonesia masuk pada peringkat dua dari bawah. Perbandingannya dengan saat ini barangkali tidak berbeda jauh jika melihat indikator yang ada.

Selain itu, dalam menjawab tantangan global, transfer IPTEK dapat berhasil jika masyarakat menguasai kemampuan membaca dan menulis. Diperlukan kemampuan yang profesional untuk mengasah daya kritis serta mengadopsi nilai-nilai positif dari bangsa maju. Belajar dari sejarah peradaban besar, menggiatkan budaya literasi dapat mendorong tumbuhnya inovasi baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Socrates, misalnya, para siswa di Yunani (kota lahirnya para filosof), diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Begitu juga di zaman peradaban Islam, budaya literasi semakin berkembang ketika Khalifah al-Ma’mun membangun akademi terbesar di dunia bernama Bayt al-Hikmah, yaitu pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai pusat studi, perpustakaan yang lengkap dengan kegiatan keilmuan lainnya (Zarkasyi, 94:2009). Alhasil, banyak penemuan baru dalam perkembangan sains dan disiplin ilmu lainnya.

Bercermin dari sejarah, dalam konteks perguruan tinggi, budaya literasi merupakan hal yang sangat penting digiatkan. Semakin zaman berkembang, tentu saja tantangan yang ada semakin menuntut mahasiswa untuk bisa menjembatani jurang realitas. Para intelektual muda diharapkan mampu memberikan gagasan yang segar untuk perubahan bangsa. Bagaimanapun, sebagai intelektual muda di perguruan tinggi, mahasiswa mendasari gerakannya dengan karakterisitik keilmuan yang memiliki berbagai sifat, antara lain; Pertama, universalisme (berlaku universal, tidak di satu tempat), menyentuh dasar-dasar hati nurani dan akal sehat; Kedua, uninterestedness (ketanpapamrihan), tidak berdasarkan tendensi politik sesaat, serta memberikan ruang terbuka untuk menguji objektifitas kebenarannya. Oleh karena sifatnya yang masih idealis, respon intelektual yang diciptakannya bersifat wajar dan murni (Berly, 69: 2000)

Lebih jauh, Botomore menjelaskan bahwa intelektual adalah kelompok kecil yang secara langsung memberikan kontribusi kepada pengembangan, transmisi, dan kritik gagasan-gagasan (Azra, 33: 1998). Dengan demikian, tugas seorang mahasiswa sejatinya adalah menyampaikan gagasan kritis tersebut dan menuangkannya menjadi sebuah tulisan. Kemampuan menulis tentu saja harus didukung dengan budaya membaca. Jika budaya literasi dapat digiatkan secara optimal, bukan tidak mungkin para mahasiswa mampu menjadi opinion leader, baik di tingkat lokal, maupun tingkat global.

Budaya Literasi: Kegiatan Ilmiah yang Tereduksi

Tak dapat dimungkiri bahwa ada kaitan antara lembaga pendidikan dan dunia intelektual. Keduanya sangat interaktif (saling mempengaruhi) dan interdependen (saling tergantung dan membutuhkan) (Azra, 1998). Salah satu cara untuk membangun tradisi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi adalah mengoptimalkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Kemajuan sebuah bangsa tercermin dari giat atau tidaknya budaya literasi masyarakatnya.

Lebih jauh, salah satu indikator penilaian kualitas sains dalam suatu negara adalah jumlah artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional. Menurut data Science and Engineering Indicators, jumlah publikasi bangsa Indonesia pada 2003 hanya 178 artikel, tertinggal jauh di bawah negara-negara ASEAN, seperti Malaysia yang mempunyai publikasi 520 artikel, Vietnam 206, Filipina 179, Thailand 1072, dan Singapura 3122. Sementara itu, Korea Selatan memiliki 13.746 publikasi, dan Jepang sejumlah 60.067 artikel. Kalau dihitung jumlah artikel perkapita, posisi Indonesia semakin mengenaskan: berada pada urutan 134 dunia, dengan indeks 0,88 artikel per 1 juta penduduk (Ma’mur, 32: 2010).

               Gambaran serupa juga terjadi pada penerbitan buku. Di wilayah ASEAN, jumlah penerbitan buku di Indonesia tertinggal jauh, yaitu sebanyak 6000 judul buku per tahun, sementara Malaysia sejumlah 10.000 judul buku, dan Singapura 12.000 judul buku. Lebih lanjut lagi, di level Asia Pasifik, Cina dan Jepang menerbitkan masing-masing 60.000 judul buku. Sementara itu, Kompas mencatat bahwa pada 2009, Indonesia baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku per tahun. Jumlah ini sama dengan Malaysia yang berpenduduk sekitar 27 juta jiwa dan jauh di bawah Vietnam yang bisa mencapai 15.000 judul buku per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa.

Dari paparan di atas, jelas bahwa menggiatkan budaya literasi dirasa penting di lingkungan kampus. Mempublikasikan tulisan kepada khalayak tentu saja bukan hanya tugas seorang akademisi, seperti dosen, tetapi juga harus dimulai dari kalangan mahasiswa sehingga kemajuan bangsa dapat mengalami percepatan. Penguasaan menulis juga harus diiringi dengan kegiatan membaca yang kontinu, serta penguasaan bahasa asing yang mumpuni, khususnya Bahasa Inggris.

Sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat maka mahasiswa juga berkewajiban menularkan kesadaran membaca itu kepada masyarakat sekitar. Bagaimanapun, masyarakat Indonesia secara umum belum memiliki kesadaran tinggi dalam membaca. Data BPS (2006) menunjukkan, orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi  sekira 23,5 persen dari total penduduk, sedangkan yang menonton televisi sebanyak 85,9 persen, dan mendengarkan radio 40,3 persen.

Karena globalisasi telah menciptakan ruang aktualisasi yang luas, dunia akan memandang sebuah bangsa dari karya yang dihasilkannya. Robert A.Day mengatakan:

“Scientist are measured primarily not by their dexterity in laboratory manipulations, not by their innate knowledge of their board or narrow scientific subjects, and certainly not by their wit or charm; they are measured, and become known (or remained unknown) by their publications”

Dari paparan di atas, jelas bahwa budaya literasi merupakan kegiatan ilmiah yang perlu dioptimalkan. Namun sayangnya, penulis melihat bahwa semangat membangun budaya literasi belum berjalan secara optimal. Sebaliknya, mahasiswa kini tengah mengalami kecenderungan delitenisme dan bahkan pendangkalan berpikir. Mereka hanya cukup tahu tema umum tanpa mengetahui detail-detail informasi yang masuk. Salah satu indikator yang paling mungkin didiagnosa adalah adanya budaya plagiarisme. Di ITB pada April 2010 silam terjadi kasus memalukan terkait pencopotan gelar ‘Doktor’ seorang alumnus program doktoral STEI angkatan 2003 karena plagiarisme penelitian. Sekalipun telah tertulis sanksi yang tegas, namun copy paste penelitian belum sepenuhnya hilang.

Kemampuan literasi juga berbanding lurus dengan kemampuan daya nalar. Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo, sejarawan UGM menyatakan bahwa kemacetan seminar-seminar intern yang dilakukan oleh mahasiswa pascasarjana bukan karena mahasiswa tidak mempunyai data, namun mereka kesulitan menyampaikan gagasan pemikiran secara logis, analitis, dan kritis. Artinya, kemampuan seseorang dalam berbahasa tulis juga dipengaruhi kemampuan bernalarnya (Suroso, 32:2007).

Selain itu, bentuk pendangkalan berpikir juga terjadi dalam bentuk aksi-aksi mahasiswa yang cenderung anarkis. Aksi tersebut pada akhirnya malah menciptakan stigma buruk di kalangan masyarakat. Alhasil, tujuan yang pada mulanya ingin mengubah kehidupan sekitar agar menjadi lebih baik, justru malah menampilkan citra yang lebih buruk. Dengan kata lain, mahasiswa saat ini membutuhkan inovasi gerakan yang segar, bertanggungjawab, dan memiliki efek yang global, tanpa menghilangkan identitas lokal, serta karakter pergerakan masif yang kritis, dinamis.

Optimalisasi Budaya Literasi: Antara Tantangan dan Tuntutan

Optimalisasi budaya literasi merupakan agenda yang perlu terus diperhatikan. Bagaimanapun juga, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk meretas komunikasi global. Melalui budaya literasi, transfer ilmu pengetahuan dari satu negara ke negara yang lain dapat berjalan secara optimal. Selain itu, tanpa kemampuan membaca dan menulis, sebuah bangsa tidak akan dipandang sebagai bangsa yang bermartabat. Dalam konteks yang lebih sempit, menyemai budaya literasi di perguruan tinggi merupakan langkah yang baik untuk memulai perubahan global. Belajar dari sejarah, universitas merupakan lahan yang subur untuk menciptakan para intelektual organik, yaitu intelektual yang, menurut Gramsci, always on the move, on the make, tidak pernah diam, senantiasa berbuat sesuatu untuk masyarakatnya.

Lebih jauh lagi, ciri paling penting dari kaum intelektual adalah keberaniannya untuk menyampaikan sesuatu yang benar itu benar dan yang salah itu salah (intellectual courage). Di era informasi seperti saat ini, media massa memegang peranan penting dalam segala aspek kehidupan. Media, tanpa disadari,  mengkonstruksi realitas objektif dan menggiring opini publik. Berbagai permasalahan bangsa di dunia bahkan terekam di media dengan beragam kepentingan dan nilai tersendiri. Namun, seorang intelektual yang baik adalah mereka yang selalu menguji kebenaran dengan objektif sehingga tidak mudah terjebak pragmatisme politik. Sikap kritis tersebut diperoleh dengan menggiatkan budaya literasi, mengumpulkan beragam premis yang bisa mengantarkan seorang intelektual pada kesimpulan objektif.

Melihat kenyataan yang ada, saat ini bangsa kita sedang terjebak dalam turbulensi krisis. Akar dari krisis itu juga bertumpu kepada sumber yang melahirkannya. Thomas Kuhn dalam The Structure Scientific Revolution mengatakan bahwa kondisi keilmuan dewasa ini telah masuk di samping krisis sekaligus anomali, yaitu norma dan perangkat ilmu yang lama sudah tak relevan, sedangkan yang baru belum terwujud. Hal ini terutama dialami oleh ilmu-ilmu kemasyarakatan. Ilmu ekonomi, misalnya, belum mampu menjawab problema stagflasi, ilmu hukum cenderung tebang pilih, sementara itu ilmu politik begitu rapuh mendeskripsi tumbuhnya kekuatan kapitalisme internasional yang menjadi supra sistem dari sistem nasional (Didin S, 89:1985).

Untuk menjawab anomali tersebut, dibutuhkan peran mahasiswa dalam menelurkan gagasan-gagasannya, tanpa menghilangkan karakter gerakan berbasis massa. Optimalisasi budaya literasi adalah variasi gerakan yang sepatutnya lebih digiatkan karena zaman telah berkembang sedemikian cepat. Mahasiswa adalah opinion leader dalam membangun wacana kepada masyarakat luas.

Berdasarkan kondisi di atas, ada beberapa cara yang sebetulnya bisa dilakukan dalam mengoptimalkan budaya literasi:

a. Optimalisasi Fungsi Perpustakaan

Perpustakaan merupakan pusat studi membaca dan keberaksaraan (litteracy). Ibarat sebuah jantung, perpustakaan sekolah merupakan sarana yang dapat memompakan pemenuhan rasa ingin tahu para mahasiswa. Aktivitas yang sejatinya perlu dikelola secara optimal dalam perpustakaan, yaitu:

1.      Optimalisasi Sarana dan Prasarana

Agar mahasiswa tidak hanya membaca textbook untuk kepentingan kuliah, maka dibutuhkan sistem yang mampu mendorong mereka untuk rajin membaca. Optimalisasi perpustakaan kampus merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Pihak kampus perlu memperhatikan lebih jauh bagaimana membuat perpustakaan fakultas dan pusat menjadi lebih nyaman. Dari sekian banyak universitas, barangkali hanya universitas ternama yang memiliki sarana dan prasarana yang mendukung. Sebaliknya, universitas lainnya masih membutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antara elemen pemerintah dan pihak kampus dalam mengembangkan perpustakaan menjadi lebih baik, misalnya, menyediakan dana lebih untuk penambahan buku, pengadaan komputer, hot-spot, serta aktivitas keilmuan.

2.      Dukungan dosen

Salah satu output dari membaca adalah menulis dan meneliti. Dibutuhkan peran dosen dalam mendorong mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Dengan tugas-tugas konstruktif yang bersifat analitis, maka mahasiswa akan sering mendatangi perpustakaan dan terdorong untuk membaca, menulis, dan meneliti.

3.      Pengadaan Lomba

Selain itu, perpustakaan juga bisa menyelenggarakan lomba karya tulis untuk mahasiswa di tingkat universitas, serta menggiatkan aktivitas keilmuan dengan konsep yang menarik. Kerjasama antara mahasiswa dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk menggiatkan aktivitas keilmuan juga dirasa efektif dalam meningkatkan nuansa keilmuan di universitas.

b. Optimalisasi Kelompok Studi (KS)

Adalah hal yang wajib bagi setiap perguruan tinggi untuk memiliki komunitas atau kelompok studi yang khusus bergerak dalam bidang keilmuan dan riset. Kelompok studi ini hendaknya dibangun berdasarkan core competence masing-masing fakultas. Namun, akan lebih baik jika semua KSF (Kelompok Studi Fakultas) memiliki KS pusat yang merangkul semua disiplin ilmu.  Ini merupakan langkah yang baik untuk menuansakan budaya literasi di kalangan mahasiswa.

UGM misalnya, memiliki Kelompok Studi bernama Gama Cendekia (GC) yang saat ini memiliki lebih dari 500 anggota. Begitu juga dengan IPB yang memiliki Forum for Scientific Studies (Forses). Kedua universitas itu seringkali menjuarai PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), suatu ajang keilmuan bergengsi di tingkat nasional. Aktivitas ini tentu saja didukung penuh oleh rektorat. IPB misalnya, bahkan memasukkan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) PIMNAS sebagai mata kuliah wajib. Bagi mahasiswa yang menjuarai PKM di tingkat nasional, karya mereka senilai dengan kewajiban membuat skripsi.

Kelompok Studi Fakultas universitas lainnya, dapat belajar dari KS UGM dan IPB dalam menciptakan nuansa keilmuan pada mahasiswa. Bagaimanapun, dukungan rektorat dibutuhkan untuk merealisasikan hal tersebut. UKM semisal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga dapat menggulirkan program kerja sperti lomba karya tulis atau jurnal ilmiah di tingkat universitas untuk memacu semangat para mahasiswa. Dimulai dari mahasiswa, maka penulisan jurnal ilmiah dapat lebih digiatkan sehingga ada regenerasi dan kaderisasi yang efektif. Kurikulum Wajib Bahasa Inggris

Saat ini batas-batas geografis semakin tidak terlihat. Penguasaan bahasa Inggris adalah hal yang wajib dimiliki oleh para mahasiswa. Dengan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, para mahasiswa diharapkan mampu meretas komunikasi global. Bagaimanapun, kedudukan bahasa Inggris semakin penting dalam berbagai bidang. David Cystal (1993, 2001, 2007) mengatakan:

“The need for a global language is particularly appreciated by the international academic and business communities, and it is here that the adoption of a single lingua franca is most in evidence, both in lecture-rooms and board-rooms, as well as in thousands individual contacts being made daily all over the globe”

Bahasa Inggris merupakan jembatan literasi global. Tanpa penguasaan bahasa Inggris, bangsa Indonesia akan tertinggal jauh. Universitas, sebagai tempat tumbuhnya para intelektual muda, perlu menyadari hal ini secara serius. Penulis mengapresiasi beberapa universitas yang sudah menerapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat kelulusan. Misalnya, pada 1996, Rektor Universitas Lampung (Unila) mengharuskan mahasiswanya mencapai nilai TOEFL minimal 450 untuk bisa diwisuda. Kebijakan serupa juga diberlakukan oleh Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Drs.Haris Mudjiman PhD, yang mewajibkan semua mahasiswa UNS mengikuti kuliah ekstra bahasa Inggris (Suroso, 45:2007). Saat ini, kurikulum bahasa Inggris memang sudah menjadi mata kuliah wajib di universitas. Namun,  alangkah lebih baik jika mata kuliah bahasa Inggris diberlakukan secara berjenjang dan kontinu di tiap semester, sehingga universitas dapat mencetak lulusan yang bisa menjadi opinion leader di tataran global.

Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi pihak universitas, terutama skill dan jumlah tenaga pengajar yang mendukung. Selain itu, pendapat pro-kontra terhadap hegemoni bahasa Inggris yang diasumsikan dapat menggerus bahasa nasional juga menjadi PR tersendiri. Namun, terlepas dari itu, hemat penulis, jika bahasa Inggris digunakan secara proporsinal, seperti menyimak, membaca, menulis, berbicara, dan menerjemahkan maka para peserta didik dapat mewacanakan pendapat mereka di tingkat global. Lebih jauh, jika para intelektual muda dapat menguasai bahasa Inggris dengan baik, maka akan terbangun interhuman communication yang baik, kepekaan terhadap budaya bangsa lain, serta terbangunnya budaya literasi yang baik.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

POTENSI LIMBAH TAHU DALAM UPAYA PEMBUATAN BIOPLASTIK RAMAH LINGKUNGAN

Salah satu masalah yang menjadi ancaman serius bagi masa depan namun sering terabaikan adalah  masalah sampah plastik. Contoh kasus mengenai sampah yang pernah terjadi, yaitu masalah sampah di Tangerang Selatan (Tangsel), yang mulai mencuat sejak awal 2010. Hampir setiap sudut kota tersebut dijejali oleh sampah. Tumpukan sampah berserakan hingga ke jalan dan menimbulkan bau yang tak sedap. Sampah tersebut didominasi oleh sampah plastik (anorganik), dan sampah organik. Sampah plastik atau benda-benda yang mengandung plastik (tas kresek, kantong plastik, bungkus permen, kemasan styrofoam atau gabus) jika dibuang begitu saja kedalam tanah, baru akan hancur dalam waktu sekitar 200 hingga 400 tahun.

Sampah plastik memiliki kekurangan lain yakni plastik berasal dari minyak bumi. Untuk membuat satu ton plastik diperlukan 12 juta barel minyak per tahun dan 14 juta pohon yang ditebang (Lu et al. 2008). Padahal persediaan minyak bumi semakin terbatas sedangkan pemakaian plastik berlangsung terus menerus dan bersifat sementara. Gagasan yang ditawarkan dalam penulisan ini adalah memproduksi plastik yang biodegradable, dengan menggunakan bahan alami yaitu limbah tahu sebagai bahan utama pembuatan plastik. Ada dua alasan utama mengenai penggunaan bahan alami dalam gagasan ini. Pertama, bahan alami adalah bahan alam yang mudah didapat, renewable, dan ramah lingkungan. Kedua, bahan alami sebagai bahan utama pembuatan plastik menyebabkan plastik yang dihasilkan dapat terurai, terlebih lagi plastik tersebut dapat mempunyai fungsi lain menjadi kompos.

Limbah industri tahu dapat menimbulkan pencemaran yang cukup berat karena mengandung polutan organik yang cukup tinggi. Dari beberapa hasil penelitian, konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tahu cukup tinggi yakni berkisar antara 7.000 – 10.000 ppm, serta mempunyai keasaman yang rendah yakni pH 4-5 (Said dan Wahjono, 1999). Jika limbah tahu cair tidak ditangani dengan baik, dapat mengganggu ekosistem air seperti sungai, danau, dan laut. Akan tetapi, ternyata limbah tahu berpotensi karena memiliki kadar protein kedelai cukup tinggi. Hal ini menjadi dasar bahwa limbah tahu dapat dimanfaatkan menjadi bioplastik, sekaligus sebagai upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan dari pembuangan limbah.

Proses Pembuatan Bioplastik dari Limbah Tahu

Proses pembuatan tahu yang menghasilkan limbah tahu cair dilakukan isolasi protein terhadap limbah tahu tersebut, melalui proses pengendapan protein. Caranya dengan menambahkan larutan NaOH 0,5 N (1 : 2) dimana NaOH sebagai pengekstrak protein, diatur pH optimum pada isolat protein yaitu pada pH 10, dipanaskan pada suhu 650 C, diaduk, didinginkan kemudian disaring. Filtrat diasamkan dengan HCl, dibiarkan protein yang terlarut mengendap. Dipanaskan pada suhu 700 C selama 10 menit, dipisahkan endapan protein (Asterina et al, 1998).

Protein kedelai menjadi pilihan yang baik karena polimer asam amino ini berisi 20 asam amino yang pada rantai samping, rantai akhir, atau rantai utamanya dapat menampung gugus fungsi. Gugus fungsi seperti amida, hidroksil, dan karboksil dapat berinteraksi dengan berbagai plasticizer. Protein kedelai dapat dikonversi ke plastik protein kedelai melalui proses ekstrusi dengan plasticizer. Ekstrusi adalah proses di mana bijih plastik (pelet) dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung panas kemudian ditekan melalui sebuah orifice sehingga menghasilkan penampang yang kontinyu. Sedangkan plasticizer adalah material yang ditambahkan untuk meningkatkan beberapa sifat dari polimer, misalnya ketahanan terhadap panas, atau minyak. Plasticizer yang umum digunakan dalam pembuatan plastik protein kedelai yaitu gliserol karena berasal dari bahan alam yang ketersediaannya melimpah serta tidak merusak lingkungan. Sedangkan biodegradable polyester yang digunakan dalam proses ini yaitu poliester amida karena memiliki kompatibilitas yang baik antara gugus amida dengan plastik protein kedelai. Pencampuran protein kedelai dengan biodegradable polyester bertujuan untuk meningkatkan kekuatan bioplastik dari kedelai.

Bioplastik dari Limbah Tahu sebagai Upaya Sistematis dalam Penerapan Green Chemistry

Bioplastik mendukung asas-asas yang dijunjung oleh konsep Green Chemistry seperti menghindari penghasilan sampah, desain bahan kimia dan produk yang aman, desain sintetis kimia yang tidak berbahaya, penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui, penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang aman, desain bahan kimia dan produk yang dapat terurai, serta pencegahan polusi.

Bioplastik tidak menghasilkan sampah karena dapat terurai oleh mikroorganisme bahkan dapat menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan. Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik tidak berbahaya seperti gliserol sebagai plasticizer yang terbuat dari bahan alam, protein sebagai polimer, dan biodegradable polyester yang ramah lingkungan karena dapat terurai. Produk bioplastik ini jelas tidak berbahaya karena mudah terurai dan tidak mengandung zat-zat beracun. Sumber daya yang digunakan terdapat di alam seperti gliserol dengan ketersediaannya yang melimpah dan protein yang diperoleh dari limbah tahu berasal dari kedelai pun dapat diperbaharui. Ini merupakan suatu kelebihan dibandingkan plastik tradisional yang berasal dari minyak bumi dengan keterbatasannya. Kondisi reaksi pembuatan bioplastik aman karena prosesnya hanya ekstrusi yang meliputi pencampuran bahan-bahannya dan injection molding berupa pencetakan plastik serta tidak dihasilkan gas atau bahan beracun seperti yang dihasilkan dalam pengolahan limbah plastik menggunakan incinerator. Bahan-bahan kimia yang digunakan dan produk yang dihasilkan dapat terurai. Dalam proses pembuatan produksi bioplastik ini tidak menghasilkan polusi. Jadi, konsep Green Chemistry perlu diterapkan terutama di industri-industri Indonesia khususnya industri tahu dan industri plastik.

Pihak-pihak yang Dipertimbangkan

Industri tahu dan industri plastik adalah dua pihak yang dipertimbangkan dapat mengimplementasikan pembuatan plastik dari limbah tahu. Industri tahu sebagai penghasil limbah tahu, memproses limbah tahu tersebut dengan cara mengisolasi protein. Industri tahu melakukan mitra dengan industri plastik, dengan cara menjual endapan protein kepada industri plastik. Terjalinlah simbiosis mutualisme antara industri plastik dan industri tahu. Industri tahu diuntungkan karena mendapatkan keuntungan dari limbah cair tahu yang sebenarnya sudah tidak bermanfaat lagi. Sedangkan industri plastik memanfaatkan protein tersebut dengan maksud meminimalisir pembuatan biaya produksi bioplastik. Kedua industri tersebut pun telah menerapkan green chemistry, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Langkah-Langkah Strategis dalam Implementasi Pembuatan Bioplastik

Dalam mewujudkan pembuatan plastik yang ramah lingkungan, proses implementasinya harus dirancang dengan sistematis dan terarah. Dalam hal ini, dibuat dua target, yaitu target jangka pendek sebagai target utama dan target jangka panjang dalam upaya beredarnya plastik ramah lingkungan.

Pembuatan bioplastik ini pun harus didukung oleh kedua industri yang telah disebutkan tadi, tanpa adanya sinergisasi yang baik antara kedua belah pihak maka tidak dapat ada implementasi yang baik. Berikut ini adalah penjabaran langkah strategis dalam mewujudkan bioplastik ramah lingkungan.

Dalam implementasi jangka pendek, elemen pertama yang harus digerakkan yaitu industri tahu. Sebagaimana kita tahu, industri tahu tersebar di hampir setiap kota di Indonesia. Pada umumnya industri tahu ini berupa industri rumah tangga. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi yang dilakukan pemda setempat dalam menerapkan pengolahan limbah tahu. Ketika pemahaman tentang pengolahan limbah plastik dipahami oleh industri tahu, diberi kebebasan kepada mereka untuk melakukan mitra dengan industri plastik manapun di Indonesia.

Elemen kedua yang tidak kalah pentingnya yaitu industri plastik. Industri plastik kemudian menggunakan protein dari industri tahu sebagai polimer dalam pembuatan bioplastik. Ada dua proses dalam pembuatan bioplastik, yang pertama yaitu proses ekstrusi, protein kedelai dan poliester amida dikeringkan dan di vakum sebelum pengolahan. Setelah pengeringan, protein kedelai dicampur dengan gliserol dengan rasio 70:30 menggunakan blender. Bahan-bahan tersebut didiamkan dan kemudian dimasukkan ke dalam extruder. Kemudian diatur suhu pengolahannya yang optimum untuk mengoptimalkan sifat mekanis plastik protein kedelai. Kedua, injection molding yaitu proses pencetakan plastik. Pada pencetakan plastik, biasanya dihasilkan plastik berupa lembaran-lembaran yang kemudian dapat dikemas sesuai kebutuhan.

Jangka panjang yang ingin dicapai adalah bioplastik ini dapat digunakan secara massal. Hal ini tidak dapat dilakukan secara instan melainkan bertahap yaitu seperti memperkenalkan contoh produk bioplastik terhadap masyarakat melalui beberapa media, dan dengan peran serta beberapa pihak. Sebagai contoh kita dapat melibatkan peran serta komunitas pencinta lingkungan, radio, koran, televisi, dan internet. Kampanye bioplastik melalui organisasi lingkungan yang ada seperti WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), YPPB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) ataupun kementrian lingkungan bertujuan mengajak masyarakat untuk mulai menggunakan bioplastik.

Selain itu, mahasiswa pun dapat berperan dalam mensosialisasikan pemakaian bioplastik ini melalui organisasi yang ada di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bidang Lingkungan.

Selanjutnya menawarkan produk bioplastik terutama kepada supermarket atau toko swalayan secara persuasif sebagai pengganti kantong plastik yang sudah ada, yaitu menyakinkan mereka bahwa hal ini dapat memberikan image positif terhadap toko swalayan tersebut. Pemasaran utama plastik ini di supermarket karena plastik kemasan atau kresek biasanya hanya dipakai sekali kemudian langsung dibuang, dan tidak dipergunakan lagi. Kemudian bioplastik yang berupa lembaran-lembaran itu dijual ke industri yang membutuhkan plastik dalam kemasan produk, pelapisan produk, dsb. Pada akhirnya diharapkan penggantian total dari plastik yang tidak dapat terurai menjadi bioplastik yang ramah lingkungan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PEMANFAATAN KOMBINASI BAHAN ALAM DALAM FOTOREAKTOR ENERGI SURYA SEBAGAI SOLUSI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DI INDONESIA

Salah satu bukti sebuah negara dikatakan sebagai negara berkembang adalah majunya sektor indutri di Negara tersebut. Dengan majunya sektor industri dapat dikatakan bahwa Negara tersebut sudah bias terbilang mandiri dalam hal memproduksi barang – barang konsumsi yang dibutuhkan oleh negaranya secara mandiri. Dari proses industri tersebut sebuah Negara dapat dikatakan dapat menjawab tantangan global karena Negara tersebut dapat memanfaatkan hasil industrinya untuk dikonsumsi oleh rakyatnya maupun diekspor ke Negara lain guna mendapatkan devisa Negara termasuk Indonesia. Namun seiring dengan digalakkannya industri di sebuah Negara tentunya menimbulkan pro dan kontra, salah satu bagian kontranya adalah limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut. Limbah industri merupakan sebuah residu dari proses industri yang sayangnya lebih banyak membawa masalahnya dibandingkan dengan kelebihannya. Beberapa limbah bias dimanfaatkan kembali menjadi benda yang memiliki nilai guna, tetapi sebagian besar dari limbah justru tidak bisa dimanfaatkan dan akhirnya terpaksa harus dibuang. Banyak pelaku industri yang memiliki tempat pengolahan limbah sendiri sehingga limbah dapat dibuang dengan aman setelah diolah, namun banyak juga yang tidak memiliki wahana pengolahan limbah sendiri bahkan banyak yang langsung membuang limbahnya ke alam bebas tanpa diolah terlebih dahulu, Tentunya hal ini membawa dampak negatif bagi lingkungan yang terpapar limbah tersebut seperti rusaknya lingkungan, timbulnya berbagai macam penyakit serta rusaknya estetika lingkungan sehingga perlu dilakukan pengolahan limbah terlebih dahulu sebelum limbah akhirnya dapat dibuang ke lingkungan.
Pada umumnya limbah industri dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu limbah padat, cair dan gas. Pada jurnal kali ini penulis hanya akan memusatkan perhatian kepada limbah cair saja. Pada umumnya hanya sedikit sekali limbah cair yang bisa dimanfaatkan kembali, namun sebagian besar tidak bisa dimanfaatkan malah justru membawa masalah bagi lingkungan. Beberapa proses pengolahan limbah cair telah dilakukan seperti proses pengolahan secara kimia, fisika dan biologi. Di balik kelebihan dari masing-masing jenis pengolahan tersebut, ternyata masih ditemukan beberapa kekurangan seperti dibutuhkan banyak bahan kimia mahal pada proses pengolahan secara kimia, dibutuhkan banyak peralatan yang mahal dan rumit pada proses pengolahan secara fisika serta dibutuhkan waktu degradasi senyawa organik yang cukup lama dengan menggunakan bakteri pada proses pengolahan secara biologi. Karena kekurangan-kekurangan tersebut membuat para pelaku industri enggan untuk mengolah limbahnya karena metode – metode tersebut masih dirasa kurang efektif.
Pada penelitian – penelitian terdahulu, telah dilakukan penelitian pengolahan limbah cair industri dengan metode adsorpsi menggunakan zeolit alam teraktivasi dan karbon aktif serta fotodegradasi menggunakan titanium dioksida. Namun demikian, kelemahan metode fotodegradasi adalah ketersediaan TiO2 di alam kurang begitu melimpah sehingga agak sulit diterapkan dalam pengolahan limbah dalam skala besar, kemudian kelemahan metode adsorpsi adalah selektifitasnya yang rendah terutama untuk limbah cair yang bersifat sangat kompleks. Kelemahan kedua metode tersebut dapat diperbaiki melalui gabungan metode adsorpsi-fotodegradasi. Metode adsorpsi-fotodegradasi didasarkan pada proses adsorpsi senyawa organik oleh permukaan padatan yang sekaligus mampu mendegradasi senyawa organik. Degradasi sempurna menghasilkan CO2 dan H2O yang aman bagi lingkungan (Is Fatimah et al, 2005).
Oksida logam titanium (TiO2) banyak dilaporkan sebagai material semikonduktor yang aktif sebagai fotokatalis. Aktivitas fotokatalis TiO2 dapat ditingkatkan melalui penyesuaian pada material pendukung. Salah satu yang dapat digunakan untuk kepentingan tersebut adalah zeolit alam dan karbon aktif. Beberapa keuntungan diharapkan dari penyesuaian TiO2 pada zeolit alam antara lain potensi zeolit alam yang melimpah di Indonesia serta stabilitas yang tinggi pada kondisi asam. Material TiO2 yang tergabung pada zeolit alam dan karbon aktif menjadi sebuah material komposit yang memiliki fungsi ganda yaitu sebagai adsorben dari sifat zeolit dan karbon aktif yang berpori serta sebagai fotokatalis (Slamet et al, 2007). Berdasar latar belakang tersebut, jurnal ini bertujuan memaparkan kemampuan komposit TiO2/zeolit/karbon aktif yang tergabung sebagai solusi pengolahan limbah cair industri.

1. Desain Reaktor Limbah
Reaktor limbah dapat dibuat dengan sederhana. Dinding dalam reaktor dilapisi dengan komposit gabungan, metode pelapisan dapat dilakukan dengan spray coating atau kalsinasi sehingga komposit akan menempel di dinding reaktor dan dapat digunakan terus tanpa harus diganti setiap kali ingin dilakukan pengolahan. Untuk keperluan energi dapat langsung menggunakan energi surya untuk bisa mengaktivasi katalis TiO2 agar bisa langsung bekerja. Selanjutnya limbah yang sudah diolah bisa langsung dibuang ke lingkungan.
2. Mekanisme Degradasi Limbah Menggunakan Komposit Gabungan TiO2, Zeolit dan Karbon Aktif
Penggunaan proses fotodegradasi senyawa organik, logam berat maupun bakteri pada limbah cair sudah dikenal sejak lama dan terbukti efektif mempercepat laju degradasi polutan limbah hingga 50% lebih cepat dibandingkan reaktor tanpa fotokatalis TiO2 (McGuigan et al: 2005, Ljubas: 2005, Finaty: 2006). Ketika fotokatalis TiO2 terpapar sinar UV dengan panjang gelombang dibawah 400 nm, elektron akan tereksitasi dari pita valensi melintasi celah pita ke pita konduksi, menghasilkan hole di pita valensi dan elektron di pita konduksi. Hole di pita valensi TiO2 akan bereaksi dengan molekul air atau ion OH- dan memproduksi radikal hidroksil (OH•) yang merupakan senyawa pengoksidasi kuat. Radikal hidroksil tersebut akan mengoksidasi bakteri dan senyawa organik pada limbah. Sedangkan elektron akan mereduksi logam berat yang teradsorp di permukaan (Huang et al: 1999).
Penelitian mengenai penggunaan karbon aktif dan zeolit secara terpisah sebagai adsorben dalam proses degradasi senyawa fenol telah dilakukan dan disimpulkan bahwa karbon aktif dan zeolit dapat meningkatkan proses fotokatalisis dalam mendegradasi senyawa organik pada limbah cair sebanyak 30 % (Meta : 2006 ; Ade: 2006). Sebagai adsorben, karbon aktif dan zeolit memiliki sifat yang sangat berbeda. Karbon aktif memiliki luas permukaan dan rongga yang cukup besar dibandingkan dengan zeolit dan cenderung lebih selektif terhadap molekul non polar. Sedangkan zeolit memiliki ukuran pori yang lebih kecil dan cenderung selektif terhadap molekul polar (Dwi et al: 2007). Penggunaan zeolit dan karbon aktif secara bersamaan sebagai adsorben akan memberi keuntungan lebih, sifat zeolit yang selektif terhadap molekul polar akan menyerap lebih banyak senyawa organik polar dan air sehingga produksi radikal OH diharapkan dapat meningkat. Sedangkan adsorben karbon aktif yang bersifat selektif terhadap molekul non polar akan dapat mengkonsentrasikan senyawa organik dan logam berat di permukaan katalis.
Pada reaksi fotodegradasi ini akan terjadi dua macam reaksi yaitu reaksi oksidasi senyawa organik dan bakteri serta reaksi reduksi logam berat. Terdapatnya dua reaksi dalam satu sistem dalam waktu yang bersamaan diharapkan dapat meningkatkan kinerja proses fotodegradasi. Secara keseluruhan metode ini mampu mendegradasi limbah hingga 80% – 85% dalam waktu 1 jam serta memiliki komposisi optimum yaitu 81% Zeolit, 17% TiO2 dan 2% Karbon aktif yang efektivitasnya setara dengan 100% TiO2 sehingga kebutuhan material TiO2 bisa ditekan dan Zeolit bisa dimanfaatkan dengan baik (Didit et al, 2009).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan manfaat penggunaan adsorben sebagai penyangga TiO2 adalah (Matsuoka dan Anpo, 2003; Takeda et al, 1995; Torimoto et.al, 1996; Yoneyama dan Torimoto, 2000):
a. Meningkatkan konsentrasi senyawa yang akan didegradasi pada sekitar ruang TiO2, sehingga dapat meningkatkan laju reaksi.
b. Meningkatkan kemampuan adsorbsi katalis. Bila kemampuan adsorbsi meningkat maka kinetika fotokatalitik meningkat karena fotokatalis dapat langsung mengoksidasi polutan tersebut.
c. Penggunaan penyangga dapat mendispersikan fotokatalis TiO2 sehingga luas permukaan katalis menjadi lebih besar dan fotokatalis menjadi lebih aktif.
d. Polutan teradsorbsi oleh penyangga kemudian dioksidasi oleh fotokatalis, sehingga intermediate yang terbentuk pun akan teradsorbsi oleh penyangga yang selanjutnya akan dioksidasi lagi oleh fotokatalis.
e. Polutan yang teradsorbsi oleh penyangga dapat langsung dioksidasi oleh fotokatalis menjadi CO2 dan H2O sehingga adsorben akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadi jenuh. Jadi adsorben diregenerasi secara insitu oleh fotokatalis, sehingga proses degradasi polutan dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan lebih efisien.
3. Keunggulan Metode
Penggunaan kombinasi komposit dalam mengolah limbah industri cair yang penulis tawarkan ini memiliki keunggulan sebagai berikut:
a. Aspek Efisiensi
Dari paparan di atas telah disebutkan bahwa gabungan komposit ini dapat mendegradasi limbah cair hingga 80 % – 85 %. Tentunya metode ini lebih efisien dibandingkan dengan metode pengolahan secara fisika dengan screening di mana banyak material yang terbuang sia – sia. Selain itu energi yang digunakan juga merupakan energi surya sehingga kebutuhan akan energi untuk mengolah limbah dapat ditekan pula. Selain itu cahaya matahari dapat juga diganti dengan sinar UV dari lampu UV jika reaktor tidak ditempatkan di tempat yang terpapar sinar matahari langsung.
b. Aspek Ekonomi
Jika dipandang dari segi keekonomisan, teknologi yang penulis tawarkan sudah cukup ekonomis. Masyarakat dan pelaku industri tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal untuk mengolah limbah industri cair karena energi yang digunakan untuk proses ini adalah energi surya yang dibutuhkan untuk proses fotodegradasi tidak memakan biaya. Jika dibandingkan dengan metode pengolahan secara kimia di mana pelaku industri harus membeli bahan kimia yang mahal kemudian harus membeli kembali bahan kimia yang sama jika ingin melakukan pengolahan kembali sehingga kelebihan biaya yang diakibatkan oleh penghematan pengolahan limbah dapat dialokasikan ke bidang lain.
c. Aspek Kontinuitas
Komposit gabungan yang digunakan dapat terus digunakan dan tidak perlu diganti setiap kali ingin dilakukan pengolahan limbah karena kompositnya telah menempel di dinding reaktor sehingga bisa dipakai berulang – ulang hanya dengan sekali pemasangan.
d. Aspek Ketersediaan
Material yang dibutuhkan sangat melimpah di alam. Zeolit dapat ditemukan di hampir semua tempat di Indonesia dan sayang potensinya masih belum disadari oleh masyarakat banyak, kemudian karbon aktif juga sangat melimpah dan gampang diolah dan dimodifikasi agar luas permukaannya semakin besar sehingga membuat kinerja pengolahan limbah lebih efisien. Sementara oksida logam titanium tidak begitu melimpah di Indonesia hanya saja fungsinya bisa ditutupi dengan kombinasi komposit, seperti yang telah dijelaskan di atas kombinasi 81% Zeolit, 17% TiO2 dan 2% karbon aktif setara dengan 100% TiO2 tunggal sehingga kebutuhan material TiO2 bisa ditekan 6 kali lipat lebih sedikit.
e. Aspek Lingkungan
Jika dipandang dari lingkungan, teknologi yang penulis tawarkan merupakan teknologi yang ramah lingkungan dimana teknologi ini tidak menghasilkan limbah baru yang dapat merusak lingkungan karena produk yang dihasilkan mayoritas berupa CO2 dan H2O yang aman dilepas ke lingkungan.
f. Aspek Waktu
Pengolahan limbah industri tempe menggunakan fotoreaktor tenaga surya ini memakan waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan metode-metode terdahulu, seperti pengolahan secara biologi dengan menggunakan bakteri yang dapat memakan waktu berhari – hari.
g. Aspek Praktis
Melihat bentuk reaktor yang sederhana serta cara kerja yang mudah dan tidak dibutuhkan keterampilan khusus membuat metode ini sangat praktis dan dapat digunakan oleh siapa saja. Yang perlu dilakukan hanyalah menampung limbah yang akan diolah dalam reaktor kemudian biarkan reaktor bekerja dengan sendirinya dengan bantuan sinar UV, kemudian tunggu beberapa saat dan kemudian limbah bisa langsung dibuang ke lingkungan.
4. Pengembangan Metode dalam Mengatasi Masalah Global
Metode pengolahan limbah cair ini jelas dapat menjadi solusi yang tepat dalam mengatasi bagaimana cara meengolah limbah cair industri agar dapat dibuang dengan aman. Keunggulan metode telah dijelaskan di atas dan selanjutnya adalah harapan agar metode ini dapat dikembangkan terutama pada industri kecil dan menengah yang kesulitan mengolah limbah karena terbentur masalah biaya. Mungkin bisa dibayangkan pula sudah berapa banyak kerugian yang diderita oleh pelaku industri hanya untuk mengolah limbah cairnya yang mahal bahkan setelah diolahpun masih banyak kandungan berbahaya yang belum siap dilepas ke lingkungan. Sudah saatnya pelaku industri di Indonesia mulai membuka mata dan meneliti kembali sumber daya alam di Indonesia, karena banyak sekali sumber daya alam di Indonesia yang memiliki banyak manfaat namun belum terjamah karena para pelaku industri sibuk terkonsentrasi hanya pada teknologi yang sudah ada dan takut untuk mencoba hal – hal baru. Selain itu, metode ini juga bisa digunakan dalam penjernihan air minum (Didit et al, 2009), reduksi logam berat (Slamet, 2007) deodorisasi limbah (Edi et al, 2009), dan lain – lain mengingat teknologi ini masih sangat mungkin untuk dikembangkan. Dan yang paling penting adalah kita harus bangga bisa menggunakan material yang dapat diambil langsung dari alam Indonesia yang melimpah ruah untuk digunakan dalam menangani masalah yang dihadapi oleh bangsa kita sendiri karena bangsa yang hebat adalah bangsa yang dapat memanfaatkan sumber daya alamnya dan digunakan untuk kepentingan masyarakatnya.

Kesimpulan
Metode penggabungan komposit Zeolit/Karbon Aktif/TiO2 terbukti mampu menangani masalah pengolahan limbah cair secara efisien, murah, aman dan praktis jika dibandingkan dengan metode komposit terpisah sehingga metode ini merupakan salah satu solusi konkrit dalam menghadapi tantangan global dalam bidang teknologi dan perindustrian.

Posted in Uncategorized | Leave a comment